Masyumi, Cahaya yang Menyinari Republik Lalu Padam oleh Badai Kekuasaan

Cendekia Terkini

Masyumi pada awalnya didirikan 24 Oktober 1943 sebagai pengganti MIAI (Madjlisul Islamil A’laa Indonesia) karena Jepang memerlukan suatu badan untuk menggalang dukungan masyarakat Indonesia melalui lembaga agama Islam. Dok : partaimasyumi.id.

JOGJA, KABAR MUSLIM– Pagi di Yogyakarta pada November 1945 tidak pernah benar-benar hening. Suara pedagang keliling, deru sepeda onthel, dan seruan azan dari surau-surau kecil membaur menjadi latar sebuah bangsa yang baru terlahir.

Namun di sebuah gedung yang sederhana, ada getaran lain. Getaran itu bukan dari suara, melainkan dari rasa: rasa percaya diri bahwa umat Islam Indonesia memiliki peran yang lebih besar dalam menentukan arah republik yang baru merdeka.

Di ruangan itu, tokoh-tokoh besar duduk dalam lingkaran. Wajah mereka letih, namun matanya memancarkan semangat yang sama: perjuangan belum selesai. Mereka baru saja melewati masa pendudukan Jepang yang keras.

Mereka rela mempertaruhkan nama dan nyawa untuk mempertahankan kemerdekaan.

Nama yang mereka sepakati hari itu menggema seperti lonceng yang menandai lahirnya era baru: Majelis Syuro Muslimin Indonesia. Masyumi.

Di luar ruangan, orang-orang belum sepenuhnya memahami apa yang terjadi. Namun sejarah sudah memulai perjalanannya.

Bangkitnya Bintang Umat Islam

Seperti halnya beberapa ormas Islam, kota Yogyakarta selalu jadi saksi sejarah pergerakan umat Islam di masa pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Para pemuda Muhammadiyah mengecat ulang papan nama kantor pusat di Yogyakarta. Sementara tokoh-tokoh NU datang membawa harapan baru. Kaum modernis dan tradisionalis duduk berdampingan, sesuatu yang jarang terjadi di tahun-tahun sebelumnya.

Masyumi tidak sekadar partai. Ia adalah rumah besar umat Islam Indonesia.

Setahun kemudian, organisasi yang baru seumur jagung ini menjelma menjadi partai dengan kekuatan politik yang mengejutkan semua pihak.

Surat kabarnya, Abadi, beredar di mana-mana seperti kabar angin yang membawa optimisme.

Di Sumatra Barat, Aceh, dan Kalimantan, nama Masyumi dibicarakan di kedai kopi, mushala, hingga pasar-pasar tradisional.

Kamera beralih ke tahun 1955. Jalanan Jakarta dipenuhi poster pemilu pertama republik.

Sejarawan sering menyebut pemilu ini sebagai “pemilu paling demokratis dalam sejarah Indonesia.” Antrean panjang, diskusi politik di pinggir jalan, dan semangat memilih menjadi pemandangan sehari-hari.

Masyumi meraih 7,9 juta suara, menempati posisi kedua secara nasional. Di banyak daerah, terutama luar Jawa, mereka adalah jawara.

Di kantor pusat, suasana kemenangan terasa seperti lautan. Para kader memeluk satu sama lain. Mereka percaya masa depan umat Islam telah menemukan jalannya.

Sukarno dan Masyumi: Dua Matahari di Langit yang Sama

Namun seperti banyak kisah besar lainnya, cahaya terang sering membawa bayangan panjang.

Indonesia memasuki masa sulit pada akhir 1950-an. Sistem parlementer yang rapuh dianggap terlalu gaduh dan penuh tarik-menarik kepentingan.

Sukarno yang kharismatik mulai mendorong gagasan politik baru yang ia sebut Demokrasi Terpimpin, sebuah sistem yang memusatkan kekuasaan di tangan Presiden.

Sementara itu, Masyumi berdiri kukuh mempertahankan idealisme demokrasi terbuka.

Mohammad Natsir menjadi tokoh oposisi paling berwibawa. Ucapannya lembut, namun maknanya tajam seperti pisau yang dibasahi air wudhu.

Ia mengingatkan bahaya kekuasaan tanpa kontrol. Ia menolak kedekatan Sukarno dengan Partai Komunis Indonesia.

Ia memegang teguh prinsip bahwa demokrasi harus memberi ruang bagi perbedaan.

Sukarno menganggap kritik itu sebagai batu sandungan terhadap revolusi. Masyumi menganggap keputusan Sukarno sebagai ancaman terhadap demokrasi.

Sejarah mencatat retakan besar itu seperti dua benua yang perlahan bergerak menjauh.

Tahun 1958: Ketika Api Daerah Menyala

Sumatra Barat, awal 1958. Kabut turun di lembah. Di rumah-rumah gadang, para pemimpin daerah berdiskusi sampai larut malam.

Ada rasa kecewa yang menumpuk bertahun-tahun terhadap pusat. Ketidakadilan ekonomi, ketimpangan politik, dan rasa diabaikan memuncak menjadi gerakan PRRI.

Tentara Indonesia bergerak. Pesawat kecil lepas landas dari lapangan terbang sederhana. Di antara hiruk pikuk itu, beberapa tokoh Masyumi berada di Sumatra. Keberadaan mereka menjadi titik krusial.

Sukarno menilai ini sebagai keterlibatan dalam pemberontakan. Meski para sejarawan belakangan menilai sebagian dari mereka datang sebagai mediator, situasinya sudah terlambat diperbaiki.

Ketegangan itu berubah menjadi badai nasional.

Langkah Presiden: Dua Jalur Menuju Pengakhiran

Tahun 1960 dunia politik Indonesia seperti hutan yang mulai terbakar. Sukarno bergerak dengan dua cara.

1. Membunuh Masyumi secara politik

Pemerintah menerbitkan aturan yang perlahan mematikan napas partai. Kursi di DPR dipereteli. Peran di kabinet dipangkas. Ruang gerak mereka mengerut seperti kain yang menyusut karena panas.

2. Mengadili tokoh-tokohnya

Tokoh Masyumi yang dianggap terlibat PRRI dijerat hukum. Penjara menjadi tempat bagi para pemimpin yang sebelumnya berdiri gagah mempertahankan republik.

Kemudian tiba hari itu: 13 September 1960.
Masyumi resmi dibubarkan pemerintah. Surat kabar Abadi berhenti terbit.

Para kader menundukkan kepala, bukan karena kalah, tetapi karena merasa dicabut dari rumah yang mereka bangun dengan air mata dan doa.

Setelah Tirai Turun: Perjalanan Sunyi yang Tetap Menyala

Pembubaran Masyumi tidak mematikan semangat para pendukungnya. Mereka membentuk Keluarga Bulan Bintang, sebuah wadah untuk menjaga ideologi Islam modernis.

Pada masa Orde Baru mereka mencoba bangkit, meski tidak pernah diberikan izin penuh.

Baru setelah Reformasi 1998, warisan itu hidup lagi di Partai Bulan Bintang.

Di ruang-ruang diskusi kampus, nama Masyumi masih disebut dengan hormat.

Di daerah-daerah, banyak orang tua bercerita kepada anak-anak mereka tentang masa ketika suara umat Islam pernah begitu kuat, lalu dipatahkan oleh badai politik.

Warisan itu bukan sekadar ingatan. Ia menjadi pengingat betapa rapuhnya demokrasi ketika kekuasaan tidak dijaga dengan keseimbangan.

Masyumi Hari Ini: Api yang Tidak Pernah Padam

Kisah Masyumi adalah kisah tentang keyakinan yang teguh, idealisme yang jujur, dan pertarungan politik yang tidak selalu adil.

Ini bukan cerita tentang menang atau kalah. Ini adalah cerita tentang bagaimana bangsa ini ditempa oleh perbedaan.

Dan seperti dokumenter besar yang ditutup dengan suara narator yang lembut:

“Masyumi telah lama bubar, tetapi ide tentang persatuan umat, demokrasi Islam, dan perjuangan yang berakhlak tetap hidup. Sejarah tidak hanya ditulis oleh mereka yang berkuasa, tetapi juga oleh mereka yang terus bertahan menjaga nilai.” (Wan)

Sumber Pustaka :

• Wikipedia: Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia
• Kompas.com: Riwayat pembubaran Masyumi
• Historia.id: Arsip Masyumi dan PRRI
• ANRI: Dokumen PRRI dan arsip politik 1950-an
• Ricklefs, M.C.: A History of Modern Indonesia
• Feith, Herbert: The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *