RIYADH, KABAR MUSLIM– Di tengah gurun Riyadh yang megah dan futuristik, nama Jakarta kembali disebut dalam percakapan para pengambil kebijakan dunia.
Bukan sekadar sebagai ibu kota negara berkembang yang padat dan riuh, melainkan sebagai contoh transformasi perkotaan yang dianggap berhasil membangun sistem transportasi publik terintegrasi.
Itulah suasana yang tergambar dari unggahan Anies Baswedan usai menghadiri Riyadh Competitiveness Forum (RCF) di Arab Saudi.
Selama tiga hari di Riyadh, Anies hadir bukan hanya sebagai tamu forum internasional, tetapi juga sebagai anggota Dewan Penasihat Komisi Kerajaan untuk Kota Riyadh atau Royal Commission for Riyadh City (RCRC).
Di forum itu, berbagai tokoh urban dunia berkumpul membicarakan masa depan kota: bagaimana menciptakan kota yang nyaman dihuni, ramah lingkungan, kompetitif secara ekonomi, namun tetap manusiawi bagi warganya.
Menariknya, Jakarta justru muncul sebagai salah satu rujukan. Bagi banyak orang Indonesia, Jakarta selama bertahun-tahun identik dengan kemacetan tanpa akhir, polusi udara, dan tekanan urbanisasi yang nyaris tak terkendali. Namun dalam satu dekade terakhir, wajah kota perlahan berubah. Transportasi publik mulai terhubung. Jalur pejalan kaki diperbaiki. Integrasi antarmoda menjadi perhatian utama.
Di mata Riyadh, transformasi itu ternyata bukan hal kecil. Dalam unggahannya di Facebook, Anies menyebut bahwa Riyadh bersemangat belajar dari kota-kota dunia, dan Jakarta dinilai sukses dalam membangun transportasi publik terintegrasi. Sebuah pengakuan yang terasa simbolik: kota dari Asia Tenggara kini ikut memberi arah bagi pembangunan metropolis Timur Tengah.
Riyadh sendiri tengah bergerak menjadi salah satu kota paling ambisius di dunia. Arab Saudi menggelontorkan investasi besar melalui proyek Vision 2030 untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak dan membangun kota masa depan berbasis teknologi, mobilitas modern, serta kualitas hidup tinggi.
Namun di balik gedung pencakar langit dan megaproyek futuristik, Riyadh tampaknya memahami satu hal penting: kota hebat tidak hanya dibangun dengan beton dan teknologi, tetapi juga dengan pengalaman sosial dan tata kelola yang matang. Di titik itulah pengalaman Jakarta menjadi relevan.
Forum tersebut juga memperlihatkan bagaimana diplomasi kota kini menjadi semakin penting. Dahulu hubungan internasional didominasi negara dan kementerian luar negeri.
Kini, kota-kota besar ikut berbicara langsung satu sama lain—bertukar pengalaman soal transportasi, perubahan iklim, tata ruang, hingga kualitas hidup warga.
Fenomena ini dikenal sebagai “city diplomacy”, ketika kota tidak lagi sekadar wilayah administratif, tetapi menjadi aktor global.
Jakarta, yang dulu sering dipandang sebagai kota penuh masalah, perlahan sedang membangun identitas baru di mata dunia.
Dalam narasinya, Anies menyebut Jakarta bukan hanya menjadi “tuan rumah di negeri sendiri”, tetapi juga “tamu memesona di panggung dunia”. Kalimat itu terdengar puitis, namun sekaligus menggambarkan perubahan posisi kota-kota Indonesia dalam percakapan global.
Bagi dunia Muslim, momentum ini juga memiliki makna tersendiri. Riyadh dan Jakarta adalah dua kota dengan populasi Muslim besar, namun tumbuh dalam konteks budaya yang berbeda.
Ketika keduanya bertukar pengalaman tentang pembangunan kota, sesungguhnya yang sedang dibangun bukan hanya infrastruktur, tetapi juga jembatan peradaban.
Di tengah tantangan perubahan iklim, urbanisasi cepat, dan krisis kualitas hidup di kota-kota besar dunia, muncul pertanyaan penting: seperti apa kota Muslim masa depan?
Apakah kota yang hanya modern secara fisik? Ataukah kota yang juga menghadirkan keadilan sosial, ruang publik manusiawi, transportasi yang layak, udara yang lebih bersih, serta kehidupan yang memuliakan warganya?
Pertanyaan-pertanyaan itu kini mulai dibicarakan lintas negara.
Dan dari Riyadh, nama Jakarta ikut hadir dalam percakapan besar tersebut (Marwan Aziz)

