Guru SMPN 01 Pulau Pari Belajar Literasi Hadis, Dr Khairil: Rasulullah Mengajar dengan Kasih Sayang

Cendekia Terkini

PULAU PARI, KABAR MUSLIM – Sebanyak 25 guru SMP Negeri 01 Pulau Pari mengikuti kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertema literasi hadis pendidikan yang dipandu akademisi pendidikan Islam, Dr. Khairil Ikhsan Siregar, Senin (12/5/2026).

Kegiatan ini bertujuan memperkuat pemahaman guru terhadap hadis sebagai sumber ajaran Islam kedua setelah Al-Qur’an, khususnya dalam pembentukan karakter peserta didik.

Kegiatan diawali dengan pretest untuk mengukur pemahaman awal peserta terkait dasar-dasar hadis, validitas hadis, klasifikasi, hingga penerapannya dalam dunia pendidikan.

Dalam pemaparannya, Dr. Khairil menegaskan bahwa hadis memiliki peran penting dalam proses pembelajaran dan pendidikan karakter di sekolah.

“Hadis merupakan sumber ajaran Islam kedua setelah Al-Qur’an yang menjadi pedoman dalam kehidupan, termasuk dalam bidang pendidikan. Melalui hadis-hadis Rasulullah SAW, kita dapat memahami bagaimana cara mendidik dengan ilmu, kasih sayang, kelembutan, serta metode yang bijaksana,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan pembagian hadis berdasarkan tingkat validitasnya, mulai dari shahih, hasan, dhaif hingga maudhu’.

“Hadis dibagi menjadi hadis shahih, hasan, dhaif, dan maudhu’. Untuk menentukan validitasnya, para ulama meneliti sanad yang bersambung, kualitas para perawi, serta kesesuaian riwayatnya,” jelasnya.

Menurutnya, metode pendidikan Rasulullah SAW menjadi teladan penting bagi para guru dalam membangun suasana belajar yang sehat dan manusiawi.

“Rasulullah SAW adalah pendidik terbaik. Beliau tidak membentak, tidak memukul, dan tidak mencela ketika mengajarkan kesalahan kepada sahabatnya. Ini menjadi pelajaran bagi guru bahwa membimbing lebih utama daripada menghukum,” katanya.

Tak hanya itu, Dr. Khairil juga menekankan pentingnya menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan mudah dipahami siswa.

“Guru harus mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Rasulullah bersabda, ‘Permudahlah, jangan mempersulit. Berilah kabar gembira, jangan membuat orang lari.’ Artinya, pembelajaran harus dibuat ramah, mudah dipahami, dan memotivasi peserta didik,” tambahnya.

Pada sesi diskusi, salah satu peserta mempertanyakan siapa yang memiliki otoritas menentukan sebuah hadis tergolong shahih atau dhaif.

Menjawab hal tersebut, Dr. Khairil menegaskan bahwa proses penilaian hadis dilakukan secara ilmiah oleh para ulama ahli hadis.

“Penentuan shahih atau dhaifnya suatu hadis tidak dilakukan secara sembarangan. Para ulama ahli hadis menelitinya melalui kitab-kitab hadis, melihat rantai sanadnya, dan meneliti para perawinya. Dari situ dapat diketahui apakah hadis tersebut dapat dijadikan hujjah atau tidak,” terangnya.

Sebagai penutup, para guru mengikuti praktik kritik hadis menggunakan platform Hadis Tazkia untuk mencari hadis, menelusuri sumber, dan mengecek validitasnya.

Kegiatan praktik ini didampingi dua mahasiswa, Annisa Nurfajrina dan Aaliyah Putri Dwi Sari.

Hasil posttest setelah pelatihan menunjukkan peningkatan pemahaman guru secara signifikan dibandingkan sebelum pelatihan, terutama terkait hadis pendidikan dan implementasinya dalam pembelajaran sehari-hari.

Kegiatan ini juga dinilai mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) nomor 4 tentang Pendidikan Berkualitas, dengan memperkuat kompetensi guru dalam menghadirkan pembelajaran yang bermakna, berkarakter, dan berlandaskan nilai-nilai Islam.

Melalui kegiatan tersebut, para guru diharapkan semakin memahami pentingnya literasi hadis dalam proses pendidikan, sehingga mampu menerapkan nilai-nilai pendidikan Islam secara tepat, ilmiah, dan relevan di lingkungan sekolah (Wan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *