Utsman bin Affan, Sang Saudagar yang Wafat di Pangkuan Mushaf

Hikmah Historial Terkini Ummah

Foto Ilustrasi AI/Kabar Muslim.

MADINAH, KABAR MUSLIM, Di sebuah rumah sederhana yang dikepung selama berminggu-minggu, seorang lelaki sepuh duduk bersila pada 18 Dzulhijjah 35 Hijriah. Tangannya yang renta memegang mushaf. Suaranya lirih melantunkan ayat.

Di luar, amarah menunggu untuk menerobos. Di dalam, ketenangan memilih tak melawan.

Dialah Utsman bin Affan — saudagar konglomerat Mekah yang berubah menjadi khalifah, lalu syahid di balik lembar wahyu yang ia jaga kesatuannya.

Saudagar Sunyi dari Bani Umayyah

Lahir sekitar 573–576 M di Mekah dari klan Bani Umayyah, Utsman tumbuh dalam atmosfer perdagangan Quraisy yang kosmopolit.

Sejak muda ia dikenal jujur, lembut, dan cerdas. Dalam masyarakat yang mayoritas buta huruf, ia termasuk sedikit yang bisa membaca dan menulis—modal penting dalam dunia niaga lintas Syam dan Yaman.

Kekayaannya luar biasa. Ia mengelola kafilah dagang besar, memiliki jaringan hingga wilayah Bizantium.

Namun riwayat klasik seperti karya Muhammad ibn Jarir al-Tabari dan Ibn Kathir menggambarkannya sebagai pribadi pemalu, tidak menyentuh khamar bahkan sebelum Islam, dan jarang meninggikan suara.

Masuk Islam pada masa awal dakwah atas ajakan Abu Bakar ash-Shiddiq, ia segera menghadapi tekanan keluarga. Namun ia bertahan.

Ia menikahi Ruqayyah, putri Muhammad, lalu ikut hijrah ke Habasyah pada 615 M—gelombang migrasi paling awal dalam sejarah Islam. Setelah Ruqayyah wafat, ia menikahi Ummu Kultsum. Karena menikahi dua putri Nabi, ia dijuluki Dzun Nurain (Pemilik Dua Cahaya).

Derma yang Mengalir Tanpa Nama

Di Madinah, kekayaannya menjadi jaring pengaman sosial umat. Ia membeli Sumur Rumah dari seorang Yahudi dan mewakafkannya untuk umum.

Ia membiayai pasukan Tabuk dengan ratusan unta dan emas. Ia memperluas Masjid Nabawi dan Masjidil Haram dari hartanya sendiri.

Dalam tradisi hadis (riwayat dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim), Nabi memuji kedermawanannya. Ia bahkan rutin membebaskan budak.Kekayaan baginya bukan simbol gengsi, tetapi alat pelayanan.

Khalifah Tertua, Imperium Terluas

Tahun 644 M, setelah wafatnya Umar bin Khattab akibat tikaman, enam sahabat senior bermusyawarah. Utsman terpilih sebagai khalifah pada usia sekitar 70 tahun—yang tertua di antara Khulafaur Rasyidin.

Masa pemerintahannya (644–656 M) menyaksikan ekspansi besar: Armenia dan Kaukasus, Khurasan di Persia timur, hingga Afrika Utara. Armada laut Muslim bahkan mengalahkan Bizantium dalam Pertempuran Tiang (Battle of the Masts) tahun 655 M—momen penting yang dicatat pula dalam kronik Bizantium dan kajian modern seperti Hugh Kennedy dalam The Great Arab Conquests.

Namun pencapaian paling monumental bukanlah wilayah, melainkan teks suci.

Mushaf Utsmani: Menyatukan Bacaan, Menjaga Persatuan

Seiring meluasnya wilayah Islam, perbedaan dialek memunculkan perdebatan bacaan Al-Qur’an di Irak dan Syam. Atas laporan Hudzaifah bin al-Yaman, Utsman membentuk tim kodifikasi dipimpin Zaid bin Tsabit.

Mushaf resmi disalin dari naskah yang dihimpun pada masa Abu Bakar dan disimpan oleh Hafsah. Salinan dikirim ke berbagai provinsi. Naskah lain yang berbeda standar dimusnahkan demi menghindari perpecahan bacaan.

Langkah ini tercatat dalam Sahih al-Bukhari dan dibahas dalam studi manuskrip modern seperti François Déroche (Collège de France). Tradisi inilah yang kini dikenal sebagai Mushaf Utsmani—fondasi keseragaman teks Al-Qur’an hingga hari ini.

Ironisnya, kebijakan yang dimaksudkan untuk menyatukan itu terjadi di tengah badai politik yang makin menguat.

Tuduhan, Surat Misterius, dan Bara Fitnah

Pada paruh kedua pemerintahannya, Utsman mengangkat beberapa kerabatnya dari Bani Umayyah sebagai gubernur.

Sebagian kebijakan administratif ini dipandang sebagai konsolidasi birokrasi. Namun oposisi melihatnya sebagai nepotisme.

Ketidakpuasan sosial di Mesir, Kufah, dan Basrah membesar—dipicu persoalan distribusi ekonomi pasca ekspansi dan rivalitas elite Quraisy.

Sebuah surat kontroversial yang diduga memerintahkan hukuman terhadap delegasi Mesir dicegat di perjalanan. Para pemberontak menuduh lingkaran dekat khalifah sebagai dalang.

Sejarawan klasik berbeda pendapat tentang keaslian surat itu. Wilferd Madelung dalam The Succession to Muhammad menilai episode ini sebagai simpul krisis legitimasi politik pertama dalam sejarah Islam.

Empat Puluh Hari Pengepungan

Tahun 656 M, rombongan dari Mesir, Kufah, dan Basrah tiba di Madinah. Rumah khalifah dikepung sekitar 40 hari (sebagian riwayat menyebut hingga 49 hari). Air dibatasi. Akses makanan diputus.

Para sahabat muda, termasuk Hasan dan Husain—putra Ali bin Abi Thalib—siap membela. Pedang bisa dihunus. Madinah bisa menjadi medan perang.

Namun Utsman menolak. Dalam riwayat al-Tabari, ia berkata tak ingin menjadi orang pertama yang menumpahkan darah sesama Muslim demi mempertahankan jabatan.

Pilihan itu terdengar lembut. Tetapi justru di situlah keberanian paling sunyi.

Syahid di Balik Lembar Wahyu

18 Dzulhijjah 35 H. Utsman berpuasa. Ia duduk membaca mushaf bersama istrinya, Nailah. Rumah diterobos.

Dalam riwayat sejarah, ia dipukul dan ditikam berulang kali. Nailah mencoba melindungi, jarinya terpotong.Darah menetes ke mushaf yang terbuka di pangkuannya.

Ia wafat pada usia sekitar 82 tahun. Jenazahnya dimakamkan sederhana di Jannatul Baqi’ pada malam hari, tanpa upacara besar.

Tragedi ini memicu Fitnah Kubra—perang saudara pertama dalam sejarah Islam.

Konflik antara kubu Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah I meletup dalam Perang Jamal dan Shiffin.

Dari retakan inilah lahir dinamika politik dan teologis yang membentuk sejarah Islam berabad-abad.

Warisan yang Tak Pernah Kering

Hari ini, miliaran Muslim membaca mushaf dengan standar yang dirintis Utsman. Tanpa standarisasinya, transmisi teks Al-Qur’an mungkin tak akan seuniform sekarang.

Sejarah mungkin memperdebatkan kebijakan politiknya. Tetapi kesaksiannya di akhir hayat tak terbantahkan: ia memilih tidak membalas kekerasan dengan kekerasan.

Dari saudagar kaya Mekah ke khalifah imperium, lalu syahid di balik lembar wahyu—kisah Utsman bukan sekadar tragedi, melainkan pelajaran tentang kekuasaan, kesabaran, dan harga persatuan.

Empat puluh hari pengepungan itu telah berlalu lebih dari 14 abad. Namun setiap kali mushaf dibuka, jejak pengorbanan itu tetap hidup—sunyi, tetapi abadi (Wan)

Referensi Utama:
– Al-Tabari, Tarikh al-Rusul wa al-Muluk
– Ibn Kathir, Al-Bidayah wa al-Nihayah
– Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim
– Wilferd Madelung, The Succession to – – — Muhammad (Cambridge University Press)
– Hugh Kennedy, The Great Arab Conquests
– Fred Donner, Muhammad and the Believers
– François Déroche, kajian manuskrip Qur’an awal (Collège de France)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *