BERLIN, KABAR MUSLIM– di tengah Perang Dunia II yang berkecamuk pada 6 September 1944, sebuah suara yang tak terduga memecah kesunyian udara Eropa.
Dari sebuah studio radio di Berlin, seorang pemimpin Muslim yang dikenal berpengaruh menyampaikan pesan yang akan mengikat dua bangsa di ujung dunia. Ia adalah Syekh Muhammad Amin al-Husaini, Mufti Besar Yerusalem sejak 1921 memiliki wajah sejarah yang kompleks. Ia dikenal sebagai tokoh nasionalis Palestina yang vokal menentang mandat Inggris dan perluasan Zionisme di tanah kelahirannya.
Perjuangan itu membawanya dalam perjalanan panjang geopolitik hingga ke Eropa.
Namun pada musim gugur 1944, ketika dirinya berada di Berlin dan dunia terguncang oleh perang, Al-Husaini melakukan sesuatu yang tak terduga.
Melalui siaran radio berbahasa Arab, ia mengumumkan dukungan penuh bagi kemerdekaan Indonesia, saat itu masih berada di bawah penjajahan Jepang dan Belanda.
Pernyataan ini disiarkan dua hari berturut-turut dan kemudian tersebar di media besar Timur Tengah seperti harian Al-Ahram.
Sebelum Proklamasi, Sudah Ada Pengakuan
Apa yang dilakukan Al-Husaini bukan sekadar salam diplomatik; itu adalah salah satu pengakuan de facto internasional pertama terhadap kemerdekaan Indonesia, jauh sebelum teks proklamasi dikumandangkan pada 17 Agustus 1945.
Ketika Janji Perdana Menteri Jepang Kuniaki Koiso tentang kemerdekaan Indonesia menggema di parlemen Tokyo, Al-Husaini menyatakan kepada dunia Islam bahwa bangsa Indonesia berhak atas kemerdekaan mereka sekarang juga — meski Indonesia belum secara formal keluar dari penjajahan.
Suara itu bergema dari Berlin, namun imbasnya terasa jauh lebih luas. Seruan Al-Husaini mendorong sikap solidaritas dari negara-negara Arab lainnya terhadap perjuangan Indonesia.
Dia mendesak negara-negara Timur Tengah untuk mengikuti langkah Palestina — dan akhirnya benar terjadi: Mesir, Suriah, Lebanon, Arab Saudi, Irak, dan Yaman menjadi di antara negara pertama yang memberikan pengakuan de facto terhadap Republik Indonesia dalam tahun-tahun awal kemerdekaan.
Diplomasi Revolusi: Jejak Persahabatan Lintas Benua

Revolusi Indonesia bukan hanya peperangan di Jawa dan Sumatra; itu adalah cerita diplomasi global.
Al-Husaini, dalam kapasitasnya sebagai tokoh Muslim yang dihormati di berbagai pusat politik Arab, menjadi jembatan penting bagi pesan Indonesia ke dunia Islam.
Dukungan alamiah ini bukan semata retorika — ia juga menginspirasi gelombang aksi solidaritas rakyat di negeri-negeri Arab.
Lebih jauh lagi, pengakuan awal dan dukungan politik ini membuka pintu diplomatik yang krusial bagi Republik Indonesia muda.
Ketika pemerintah Indonesia kemudian mengirim delegasi untuk melobi di Liga Arab, mereka menemukan tanah yang telah dipersiapkan oleh suara-suara seperti Al-Husaini: bahwa kemerdekaan Indonesia bukan hanya persoalan Nusantara, tetapi percayaannya universal bagi bangsa-bangsa yang pernah dijajah.
Warisan yang Masih Terasa Hari Ini
Hubungan persahabatan Indonesia–Palestina yang dibangun pada masa kemerdekaan bukanlah hubungan biasa antarnegara.
Ia berakar pada solidaritas perjuangan dan kepercayaan moral di masa ketika dunia masih terbelah oleh kolonialisme dan perang.
Bahkan hari ini, solidaritas itu terus bersemi, bukan hanya dalam politik, tetapi dalam pemahaman bersama tentang kebebasan, martabat, dan hak asasi manusia (Wan).
Sumber Referensi Utama
– Sejarah pengakuan Palestina terhadap Indonesia via Radio Berlin, 1944 dan dampaknya dalam diplomasi Arab.
(ANTARA News)
– Analisis historis tentang dukungan Sheikh Muhammad Amin al-Husaini terhadap kemerdekaan Indonesia. (Mina News)
– Buku Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri (M. Zein Hassan) sebagai rujukan utama sejarah ini.

