Charles Holland Taylor. Foto : IST.
JAKARTA, KABAR MUSLIM– Charles Holland Taylor atau Holland Taylor—mendadak kembali jadi buah bibir di kalangan Nahdlatul Ulama.
“Bule NU” yang sudah lama terlihat di lingkaran PBNU itu ikut terseret dalam polemik internal yang belakangan memanas, terutama setelah muncul tuduhan bahwa ia “berafiliasi Zionis”. Benarkah demikian? Berikut rangkuman faktanya.
Bule Amerika yang Mualaf dan Dekat dengan Gus Dur
Taylor adalah warga Amerika Serikat kelahiran North Carolina. Ia memeluk Islam pada 2003 dan sejak itu dikenal dekat dengan tokoh-tokoh NU, terutama Presiden ke-4 RI, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
Dokumen PBNU mencatat, Taylor sudah membantu perjalanan internasional Gus Dur sejak awal 2000-an jauh sebelum ia mendapat peran lebih formal di lingkungan PBNU.
Kedekatannya dengan jaringan internasional membuatnya kemudian terlibat dalam berbagai agenda global NU.
Dalam gelaran R20 International Summit of Religious Leaders di Bali, Taylor bahkan duduk sebagai anggota steering committee, menandai posisinya sebagai figur penting dalam diplomasi antaragama yang diusung NU.
Benarkah Taylor Terlibat Gerakan Zionisme? Ini Faktanya
Isu keterlibatan Taylor dalam gerakan Zionisme mencuat dari internal PBNU sendiri.
Tuduhan itu muncul setelah kehadiran Peter Berkowitz, tokoh akademik yang dikenal sangat pro-Israel, dalam satu acara AKN NU.
Taylor disebut-sebut sebagai pihak yang berperan dalam masuknya Berkowitz sebagai narasumber.
Namun sejauh penelusuran yang ada, tidak ditemukan bukti bahwa Taylor adalah aktivis atau kader organisasi Zionis.
Ia tidak tercatat sebagai bagian dari kelompok Zionis formal, tidak memiliki rekam jejak advokasi politis pro-Israel, dan kiprahnya selama ini lebih tepat dibaca sebagai fasilitator dialog antarperadaban.
Kata “afiliasi” yang muncul dalam laporan internal PBNU tampaknya lebih mengarah pada jejaring, bukan ideologi. Artinya, kehadiran tokoh pro-Israel dalam acara NU dianggap menyalahi sensitivitas jamaah dan nilai Aswaja An-Nahdliyah, meskipun tidak otomatis menandakan Taylor adalah penganut gagasan Zionisme.
Kenapa Kontroversi Ini Bisa Menggoyang Posisi Gus Yahya?
Yang membuat masalah ini kian besar adalah konteksnya: polemik Taylor muncul bersamaan dengan desakan sebagian pihak agar KH Yahya Cholil Staquf mundur dari posisi Ketua Umum PBNU.
Bagi beberapa ulama, mempersilakan figur pro-Israel bicara di forum resmi NU dianggap sebagai tindakan yang “melampaui batas”.
Mereka menilai hal itu berpotensi merusak citra NU sebagai organisasi yang konsisten pada nilai keadilan, kemanusiaan, dan keberpihakan pada Palestina.
Namun kubu pendukung Gus Yahya menyebut bahwa perubahan struktural PBNU tidak bisa diputuskan hanya lewat rapat Syuriyah harian, melainkan melalui Muktamar, forum tertinggi organisasi. Artinya, desakan mundur tidak bisa serta-merta dijalankan.
Di sisi lain, Katib Aam PBNU menegaskan bahwa pencabutan mandat Taylor sebagai penasihat internasional bukanlah pemecatan, melainkan langkah meredam kegaduhan dan menjaga stabilitas organisasi.
Akan Berakhir di Mana Kisruh Ini?
Polemik Holland Taylor menunjukkan bahwa isu geopolitik global kini bisa mengguncang dinamika internal organisasi keagamaan sebesar PBNU.
Dengan tensi yang belum mereda, seluruh mata kini tertuju pada bagaimana Gus Yahya dan jajaran Syuriyah menavigasi badai politik ini, terutama menjelang agenda-agenda besar NU ke depan
Hingga berita dipublis, belum ada pernyataan resmi Charles Holland Taylor terkait pemecatan dirinya dari pengurusan PBNU (Wan)

