Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi Mohamed Bin Salman (MBS) bersama Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Gedung Putih beberapa waktu lalu. Foto: DW.
JAKARTA, KABAR MUSLIM – Pertemuan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Gedung Putih pada 18 November lalu rupanya berlangsung lebih panas dari yang terlihat di depan kamera.
Sumber-sumber di Washington dikutip Kabar Muslim menyebut pembicaraan keduanya memuncak pada satu isu yang kini kembali menggoyang diplomasi Timur Tengah: normalisasi Saudi dengan Israel.
Laporan Axios, yang dikutip sejumlah media di Timur Tengah seperti Al Arabiya, menyebut Trump secara agresif mendorong Riyadh untuk masuk ke Abraham Accords, skema normalisasi yang digagas Washington sejak 2020.
Upaya Amerika itu disebut bagian dari kalkulasi geopolitik baru Washington di kawasan, sekaligus dorongan Trump untuk menunjukkan capaian diplomatik menjelang pemilu.
Namun MBS, ujar dua pejabat AS yang enggan disebut namanya, menolak dengan tegas.
Sang putra mahkota disebut berulang kali menegaskan bahwa posisinya tidak berubah: Saudi hanya akan membuka normalisasi jika Israel menerima solusi dua negara serta pembentukan negara Palestina berdasarkan perbatasan 1967 dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota.
Percakapan Memanas di Oval Office
Axios menggambarkan percakapan keduanya sempat berada “di titik tegang”. Ketika Trump kembali menekan agar Riyadh bergabung dengan blok negara-negara Arab yang sudah menormalisasi hubungan dengan Tel Aviv, MBS disebut “menekan balik”.
“Putra Mahkota Saudi menanggapi dengan tegas permintaan Trump dan memegang teguh posisinya,” tulis Axios.
Dua pejabat AS bahkan menggambarkan MBS sebagai “pemimpin yang kuat” yang tidak mudah didesak oleh Washington.
Sikap keras MBS itu sekaligus sinyal bahwa Riyadh enggan membuka pintu normalisasi sebelum ada kepastian politik menyangkut masa depan Palestina—isu yang selama ini menjadi fondasi kebijakan luar negeri Saudi.
Reverberasi Diplomatik di Timur Tengah
Penolakan MBS kian menegaskan jurang antara kepentingan AS dan konsistensi kebijakan Saudi mengenai Palestina.
Riyadh selama satu dekade terakhir tetap menjadi penentu arah politik Arab dalam isu ini, sekaligus pusat gravitasi diplomasi kawasan.
Sementara itu, Israel—yang tengah menghadapi tekanan internasional terkait kebijakan wilayah pendudukan—membaca momentum normalisasi dengan Saudi sebagai kemenangan geopolitik strategis.
Penolakan terbaru ini memberi sinyal bahwa jalan menuju kesepakatan tersebut masih panjang.
Dari sisi domestik Washington, penolakan ini juga menjadi pukulan politik bagi Trump, yang selama ini menjadikan Abraham Accords sebagai salah satu pencapaian kebijakan luar negerinya.
Babak Baru Hubungan Riyadh–Washington
Pertemuan di Oval Office itu, menurut analis Timur Tengah, membuka babak baru dinamika antara dua sekutu lama.
Di satu sisi, Saudi tetap membutuhkan payung keamanan AS. Namun di sisi lain, MBS sejak beberapa tahun terakhir menunjukkan kecederungan menyeimbangkan hubungan dengan kekuatan global lain, termasuk Tiongkok.
Dengan tegasnya sikap MBS dalam pertemuan tersebut, sinyal Riyadh cukup jelas: normalisasi bukan hadiah diplomatik, melainkan harga politik yang menuntut komitmen nyata bagi Palestina (Wan)

