Ketika Kekhalifahan Berubah Wajah, Muawiyah dan Lahirnya Dinasti Pertama Islam

Hijrah Historial Terkini

Pada suatu pagi yang tenang di Damaskus, ketika cahaya matahari memantul di kubah-kubah masjid tua, sejarah seolah menyimpan napas panjang.

Di balik dinding batu kapur yang telah memudar oleh waktu, terpatri nama seorang lelaki yang pernah mengguncang arah politik Islam. Namanya: Muawiyah bin Abu Sufyan.

Ia bukan sekadar seorang gubernur, bukan pula sekadar seorang penulis wahyu. Ia adalah sosok yang mengubah lanskap kekuasaan dunia Islam — pendiri dinasti yang akan membentang dari perbukitan Persia hingga pesisir Atlantik.

Namun kisah Muawiyah bermula jauh dari kemegahan Damaskus.

I. Bayi Quraisy dari Padang Pasir Makkah

Muawiyah lahir di Makkah sekitar tahun 602 M, di tengah padang pasir yang getir dan hiruk-pikuk kabilah Quraisy. Klan Bani Umayyah — tempat ia berasal — adalah keluarga pedagang terpandang, ambisius, dan berpengaruh.

Di masa mudanya, Muawiyah melihat langsung gelombang besar yang mengguncang tanah Arab: munculnya dakwah Muhammad SAW.

Keluarganya menolak. Ayahnya, Abu Sufyan, menjadi salah satu tokoh utama yang memimpin perlawanan terhadap Islam. Namun takdir sejarah berputar. Ketika Makkah jatuh damai ke tangan kaum Muslimin tahun 630 M, pintu baru terbuka.

Muawiyah mengucapkan syahadat.
Dan hidupnya berubah.

Di balik kecerdasan dan kebijakannya berbahasa, tersembunyi sebuah bakat langka: ia pandai menulis. Nabi mengangkatnya menjadi katib wahyu — pencatat wahyu ilahi. Titik awal sebuah perjalanan yang kelak membawa dirinya menuju puncak dunia.

II. Syam: Tanah Subur yang Menjadi Panggung Kekuasaan

Setelah wafatnya Nabi, roda sejarah bergerak cepat. Pada masa Umar bin Khattab, Muawiyah ditunjuk sebagai Gubernur Suriah (Syam).

Syam bukan wilayah biasa. Kota-kotanya — Damaskus, Homs, Aleppo — merupakan simpul perdagangan yang kaya dan strategis. Di sanalah budaya Bizantium, Persia, dan Arab saling bertemu, menciptakan atmosfer politik yang kompleks.

Muawiyah melihat sesuatu yang tak dilihat orang lain:
Syam adalah kunci masa depan Islam.

Ia merombak sistem militer. Menata birokrasi. Membangun angkatan laut pertama dalam sejarah Islam untuk menantang dominasi Bizantium di Laut Tengah.

Kapal-kapal kayu berlayar dari pelabuhan Akka dan Tirus, membawa panji bulan sabit di tiang tinggi.
Dan Muawiyah berdiri di pusatnya — sebagai arsitek kekuatan baru dunia Islam.

III. Ketika Fitnah Menggetarkan Jazirah

Waktu bergulir menuju masa paling gelap dalam sejarah Islam awal: Fitnah Kubra.

Setelah terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan, dunia Islam terpecah. Ali bin Abi Thalib naik menjadi khalifah, tetapi konflik politik dengan Muawiyah tak terbendung.

Syam menolak berbaiat.
Perang saudara pecah.
Dan umat Islam terbelah.

Pertempuran Siffin (657 M) menjadi salah satu tragedi terbesar dalam sejarah. Di tepian Sungai Eufrat, debu gurun bercampur darah, panji-panji berkibar di atas teriakan yang tak pernah ingin diingat.

Ketika Ali wafat dan putranya Hasan mengundurkan diri demi menghindari pertumpahan darah, bara sejarah mereda.
Dan Muawiyah naik sebagai khalifah tunggal umat Islam tahun 661 M.

Dari Damaskus, sebuah kekaisaran baru lahir.

IV. Damaskus: Jantung Kekuasaan Baru

Di balik gerbang kota Damaskus, pemerintahan Muawiyah mengambil bentuk yang belum pernah dilihat umat Islam sebelumnya.

Ia memindahkan pusat kekuasaan dari Madinah — kota spiritual — ke Damaskus — kota administrasi dan geopolitik. Sebuah langkah berani yang menandai transformasi besar kekhalifahan.

Di tangan Muawiyah:

  • Sistem pemerintahan dibakukan
  • Administrasi dikuatkan
  • Sistem pos (barid) modern lahir
  • Armada laut Muslim mendominasi Mediterania
  • Umat Islam menikmati stabilitas setelah masa kekacauan

Ia memimpin bukan sekadar sebagai ulama, tetapi sebagai negara.

Di bawah kepemimpinannya, kekhalifahan menjadi kekuatan global. Dari Maroko hingga Persia, dari Anatolia hingga Yaman, panji Islam mengibarkan bayang-bayang besar di atas sejarah.

Tetapi tidak semua warisan Muawiyah berdiri tanpa kontroversi.

V. Bayang-Bayang Kontroversi: Dari Yazid hingga Karbala

Keputusan Muawiyah menunjuk putranya, Yazid, sebagai penerus membuka babak baru — dan luka baru — dalam sejarah Islam.

Untuk pertama kalinya, kekhalifahan berubah menjadi monarki turun-temurun.
Banyak yang menolak. Dan keputusan itu berujung pada tragedi terbesar yang tercatat dalam tinta merah sejarah: Karbala.

Walau terjadi setelah wafatnya Muawiyah, keputusan politiknya menjadi faktor penyebab utama arah sejarah selanjutnya.

Inilah mengapa namanya sering dinilai melalui dua kaca mata:

  • Sebagian memandangnya sebagai pemimpin brilian yang membawa stabilitas dan kejayaan.
  • Sebagian lain menganggapnya sebagai arsitek kemunduran ideal politik Islam awal.

Di sinilah pesona kisah Muawiyah:
Sebuah perjalanan yang tak dapat dibaca hanya dengan satu warna.

VI. Warisan: Antara Kekaisaran dan Perdebatan Abadi

Muawiyah wafat tahun 680 M, dimakamkan di Damaskus yang kini menjadi bagian dari Suriah modern. Tetapi warisannya masih bergema.

Dinasti Umayyah yang ia dirikan:

  • memperluas wilayah Islam hingga Spanyol, India, dan Asia Tengah
  • membangun struktur administratif yang menjadi dasar negara modern
  • menciptakan sistem pajak, pos, dan militer berskala kekaisaran

Namun di balik pencapaian itu, kontroversi soal suksesi tetap menjadi perdebatan panjang yang membelah umat Islam hingga hari ini.

Di persimpangan sejarah — antara ambisi politik, kecerdasan diplomatik, dan pergulatan spiritual — Muawiyah berdiri sebagai tokoh yang tak pernah bisa direduksi hanya menjadi hitam atau putih.

Ia adalah suara zaman yang penuh turbulensi. Ia adalah bayangan Damaskus yang mengubah wajah dunia.

Ia adalah awal dari dinasti besar — dan juga awal dari perdebatan panjang tentang kekuasaan (Marwan Aziz)

DAFTAR SUMBER

1. Ensiklopedia & Sumber Utama
Wikipedia Indonesia – “Muawiyah bin Abu Sufyan”
(biografi dasar, jabatan, garis waktu sejarah)

Wikipedia Inggris – “Muawiya I”
(informasi sejarah tentang pemerintahan, angkatan laut, politik Syam)

2. Media Arus Utama & Ensiklopedia Populer

Kompas.com – “Biografi Muawiyah I, Pendiri Dinasti Bani Umayyah”
(struktur pemerintahan dan latar politik masa awal kekhalifahan)

3. Sumber Akademik & Jurnal

Jurnal UIN Bengkulu – “Kepemimpinan dan Pemerintahan Muawiyah bin Abu Sufyan”
(kajian akademik struktur administrasi dan kebijakan politik)

Encyclopaedia Britannica – “Muawiyah I”(informasi mengenai pemerintahan, kebijakan suksesi, dan sejarah Umayyah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *