Ketika Azan Menembus Gelombang Udara: Sebuah Percakapan Sunyi yang Mengubah Siaran Dunia Arab

Historial Terkini Ummah

KAIRO, KABAR MUSLIM, Di sebuah sore yang hening di Kairo, seorang anak lelaki yang telah menjadi presiden pulang menjenguk ibunya.

Ia bukan lagi perwira muda revolusi, bukan pula pemimpin yang mengguncang geopolitik Timur Tengah. Ia hanya seorang anak yang bertanya lembut, “Ibu, apa yang bisa kulakukan untukmu?”

Anak itu adalah Anwar Sadat, Presiden Mesir yang memimpin negeri Sungai Nil dari 1970 hingga 1981. Sang ibu, dengan permintaan yang sederhana namun menyentuh, menjawab:
“Bisakah engkau menyiarkan azan di radio dan televisi? Setiap kali waktu azan tiba, aku tak selalu tahu kapan waktunya.”
Permintaan itu terdengar kecil. Tapi dari ruang keluarga sederhana itulah, gema azan menjalar menembus gelombang udara, melintasi kota-kota padat, desa-desa gurun, bahkan melampaui batas negara.

Dari Minaret ke Mikrofon

Azan, seruan salat yang telah dikumandangkan sejak abad ke-7, pertama kali digaungkan oleh sahabat Nabi, Bilal ibn Rabah.

Dari menara-menara masjid, suara itu menjadi penanda ritme kehidupan Muslim: bangun sebelum fajar, jeda di tengah siang, hingga senja yang memerah.

Namun memasuki abad ke-20, dunia berubah. Kota-kota tumbuh, teknologi berkembang, dan manusia semakin bergantung pada jam mekanik serta siaran elektronik.

Radio menjadi medium paling berpengaruh di Timur Tengah sejak 1930-an. Di Mesir, lembaga penyiaran nasional kemudian dikenal sebagai Egyptian Radio and Television Union, yang berdiri resmi pada 1970 sebagai payung radio dan televisi negara.

Menurut arsip sejarah penyiaran Mesir, siaran radio nasional sebenarnya telah mengudara sejak 1934.

Namun praktik menyiarkan azan secara konsisten dan menghentikan program reguler saat waktu salat menjadi kebijakan yang dilembagakan kuat pada era 1970-an—periode kepemimpinan Sadat yang juga dikenal dengan upaya “re-Islamisasi simbolik” di ruang publik Mesir setelah era sekularisasi ketat sebelumnya. Permintaan seorang ibu bertemu dengan momentum sejarah.

Azan dan Politik Identitas

Sadat naik ke tampuk kekuasaan setelah wafatnya Gamal Abdel Nasser. Jika Nasser dikenal dengan nasionalisme Arab yang sekuler dan sosialistik, Sadat mengambil pendekatan berbeda: membuka ruang lebih luas bagi ekspresi keagamaan dalam ranah publik.

Sejumlah peneliti sejarah Timur Tengah, termasuk dalam kajian-kajian yang diterbitkan Universitas Oxford dan American University in Cairo, mencatat bahwa pada 1970-an simbol-simbol Islam kembali tampil dominan di televisi dan ruang negara Mesir. Siaran azan secara rutin di televisi nasional menjadi bagian dari transformasi itu.

Apa yang dimulai sebagai permintaan seorang ibu, selaras dengan arus sosial-politik yang sedang bergerak.

Gelombang yang Menyebar ke Dunia Arab Termasuk Indonesia

Begitu kebijakan itu berjalan di Mesir, stasiun radio dan televisi di berbagai negara Arab termasuk Indonesia mengadopsi pola serupa.

Radio resmi di kawasan Teluk, Levant, hingga Afrika Utara mulai menghentikan siaran saat waktu salat dan memutar azan.
Di era sebelum internet dan ponsel pintar, radio adalah “penjaga waktu kolektif”.

Sebuah studi tentang sejarah media Arab yang diterbitkan oleh Columbia Journalism Review mencatat bahwa radio publik di Timur Tengah bukan sekadar media informasi, tetapi juga instrumen pembentuk identitas nasional dan religius.

Dengan menyiarkan azan, negara tidak hanya menyampaikan informasi waktu ibadah—ia juga menegaskan identitas peradaban.

Dari Televisi Tabung ke Streaming Digital

Hari ini, azan tak lagi hanya bergema dari masjid atau radio analog. Televisi satelit seperti Al Jazeera atau stasiun nasional di berbagai negara Muslim tetap menghentikan siaran atau menampilkan grafis waktu salat.

Lebih jauh lagi, platform digital dan aplikasi pengingat salat telah mengambil peran personalisasi waktu ibadah.

Namun akar praktik siaran azan nasional tetap menjadi tonggak penting dalam sejarah media Muslim modern.

Lembaga-lembaga penyiaran di Indonesia, Malaysia, Turki, hingga Pakistan mengadopsi pola yang mirip—sebuah warisan praktik yang telah mengakar selama puluhan tahun.

Sebuah Permintaan yang Mengubah Ritme Bangsa

Di balik narasi besar sejarah politik Timur Tengah, kisah ini mengingatkan kita pada satu hal: perubahan besar kerap lahir dari percakapan kecil.

Seorang ibu yang kesulitan mengetahui waktu azan. Seorang anak yang kebetulan adalah presiden.

Sebuah telepon ke kepala televisi nasional.
Lalu suara itu pun bergema. Azan yang dahulu hanya terdengar dalam radius suara manusia, kini menjangkau jutaan telinga sekaligus.

Ia melintasi apartemen modern Kairo, kamp pengungsi, desa nelayan di Delta Nil, hingga ruang keluarga sederhana di pelosok.

Lebih dari Sekadar Siaran

Azan bukan sekadar pengingat waktu. Ia adalah penanda kehadiran Tuhan dalam ruang publik modern.

Dalam dunia yang bising oleh iklan, pertandingan olahraga, dan hiruk pikuk politik, siaran azan menjadi momen hening kolektif—sebuah jeda sakral.

Dalam tradisi Islam, siapa pun yang menyeru kepada kebaikan akan memperoleh pahala yang terus mengalir.

Jika benar permintaan sederhana itu menjadi sebab tersebarnya praktik siaran azan di radio dan televisi hingga kini, maka betapa luas jejak amal yang tercipta dari satu doa seorang ibu.

Maka doa yang terlantun pun terasa relevan:
Allahummaghfirlaha warhamha wa’afihi wa’fu’anha wa akrim nuzulaha.
Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, sejahterakan dan maafkanlah dia, serta muliakanlah tempat tinggalnya.

Kita mendoakannya bukan semata karena ia ibu seorang presiden, tetapi karena ia menjadi sebab gema azan melintasi zaman.

Dan mungkin, di suatu sore yang lain, ketika azan terdengar dari televisi atau radio di rumah kita—ada jejak doa seorang ibu yang masih mengalun bersama gelombang udara (Wan).

Referensi Utama
1) Anwar Sadat
– Sadat, Anwar. In Search of Identity: An Autobiography. New York: Harper & Row, 1978.
– Cook, Steven A. The Struggle for Egypt: From Nasser to Tahrir Square. Oxford University Press, 2011.
– Encyclopedia Britannica. “Anwar Sadat – President of Egypt.”
2) Gamal Abdel Nasser
– Dawisha, Adeed. Arab Nationalism in the Twentieth Century. Princeton University Press, 2003.
– Encyclopedia Britannica. “Gamal Abdel Nasser.”
3) Egyptian Radio and Television Union (ERTU)
– Boyd, Douglas A. Broadcasting in the Arab World: A Survey of the Electronic Media in the Middle East. Iowa State University Press, 1999.
– Rugh, William A. Arab Mass Media: Newspapers, Radio, and Television in Arab Politics. Praeger, 2004.
– Official historical overview of Egyptian broadcasting (Maspero archives).
4) Sejarah awal radio Mesir (1934)
– Ayalon, Ami. The Press in the Arab Middle East: A History. Oxford University Press, 1995.
– Armbrust, Walter. Mass Culture and Modernism in Egypt. Cambridge University Press, 1996.
5) Bilal ibn Rabah
– Ibn Hisham. Sirah Nabawiyah.
Peters, F.E. Muhammad and the Origins of Islam. SUNY Press, 1994.
6) Studi media dan identitas keagamaan di Timur Tengah
– Rugh, William A. Arab Mass Media: Newspapers, Radio, and Television in Arab Politics. Praeger, 2004.
– Columbia Journalism Review – kajian tentang perkembangan media penyiaran Arab.
7) Al Jazeera
– Zayani, Mohamed. The Al Jazeera —-Phenomenon: Critical Perspectives on New Arab Media. Pluto Press, 2005.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *