Kapal Induk AS Gerald R. Ford Merapat, Ketegangan dengan Iran Memuncak

Terkini Ummah

kapal induk bertenaga nuklir USS Gerald R. Ford. Dok : Ist.

TAHERAN, KABAR MUSLIM– Di hamparan biru Laut Arab, dua kota terapung milik Angkatan Laut Amerika Serikat kini bersiaga. Setelah sebelumnya menghadirkan gugus tempur pengiring kapal induk USS Abraham Lincoln, Washington kembali menambah daya gentarnya dengan mengirim kapal induk bertenaga nuklir USS Gerald R. Ford—mahkota armada laut modern Amerika.

Kapal induk kelas terbaru ini bukan sekadar simbol kekuatan. Dengan reaktor nuklir yang memberinya daya jelajah nyaris tak terbatas, ia mampu membawa lebih dari 75 pesawat tempur. Di geladaknya, deru mesin F/A-18 Super Hornet siap membelah langit, sementara radar berputar di punggung E-2 Hawkeye mengawasi horizon, menjadi mata yang tak pernah terpejam.

Dari kejauhan, armada ini tampak seperti bayangan sunyi. Namun di balik ketenangan laut, perhitungan militer berlangsung dengan presisi matematis.

Menurut dua pejabat Amerika Serikat yang menjadi sumber kantor berita Reuters pada Jumat (13/2/2026), pengerahan kali ini bukan sekadar unjuk kekuatan. Rencana yang disusun jauh lebih kompleks dibanding operasi-operasi sebelumnya. Dalam skenario jangka panjang, sasaran tidak lagi terbatas pada infrastruktur nuklir Iran, tetapi meluas ke fasilitas strategis dan sistem keamanannya.

Semua bergerak dalam satu poros keputusan: Gedung Putih. Bila Presiden Donald Trump memberi perintah, kekuatan pemukul itu telah siap diluncurkan.

Namun Washington juga memahami konsekuensinya. Serangan terhadap Iran hampir pasti akan memicu balasan. Para perencana militer memperkirakan konflik dapat berkembang menjadi pertukaran serangan berkelanjutan—eskalasi yang jauh lebih serius dibanding ketegangan-ketegangan sebelumnya antara kedua negara.

Di atas peta geopolitik, Timur Tengah kembali menjadi papan catur raksasa. Kapal induk dan jet tempur hanyalah bidak-bidak paling mencolok. Di baliknya ada diplomasi yang tegang, kalkulasi ekonomi global, dan bayangan dampak terhadap stabilitas kawasan.

Laut Arab kini tidak hanya menjadi jalur perdagangan energi dunia, tetapi juga ruang tunggu bagi kemungkinan sejarah baru—apakah berupa perang berkepanjangan yang bisa memicu perang dunia ketiga atau justru titik balik diplomasi? (Wan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *