Gaza Tenggelam dalam Cuaca Dingin, Tragedi Musim Dingin yang Terulang

Terkini Ummah

Kondisi warga Gaza di Kamp Pengungsian di musim hujan yang dingin. Foto : Anadolu Agency.

GAZA, KABAR MUSLIM– Di balik reruntuhan dan tenda-tenda lusuh, Gaza kini menyaksikan babak baru penderitaan: bukan hanya bom dan konflik, tetapi dingin menusuk dan hujan deras yang merobek sedikit harapan yang tersisa.

Bayang-bayang Musim Dingin

Musim dingin telah tiba di Gaza dengan brutal. Tenda-tenda darurat, banyak di antaranya terbuat dari terpal tipis dan kain rapuh, tidak mampu menahan derasnya hujan dan tiupan angin kencang.

Hujan pertama musim ini telah mencurahkan amarahnya: air mengalir deras melalui jahitan yang longgar, merendam selimut dan alas tidur milik keluarga yang sudah kehilangan segalanya.

Salah seorang pengungsi di kamp Muwasi, area padat tenda yang dibangun di atas bukit pasir, terpaksa menggali parit kecil untuk mengalirkan limpasan air hujan dari tenda mereka.

“Saya menghabiskan malam menyingkirkan air dari tenda saya,” kata Bassil Naggar, yang baru membeli tenda baru dengan harga tinggi di pasar gelap karena tenda lamanya sudah rapuh seperti dikutip Kabar Muslim dari Washington Post (16/11/2025).

Namun, upaya-upaya sederhana ini seringkali tidak cukup. Struktur tenda lama, banyak di antaranya rusak setelah bertahun-tahun perang, kini semakin rapuh.

Menurut laporan lembaga kemanusiaan, sekitar 74% tenda di Gaza sudah tidak layak pakai karena aus atau rusak.

Dingin yang Membunuh

Bukan hanya air hujan yang menjadi musuh. Suhu malam di Gaza dapat turun drastis mendekati 6 °C menurut laporan Shelter Cluster.

Dalam kondisi seperti itu, sesosok manusia dewasa saja bisa kedinginan, apalagi bayi atau anak kecil.

Tragisnya, setidaknya enam bayi telah meninggal karena hipotermia di Gaza yang membeku, menurut dokter dan paramedis.

Kehidupan dalam tenda yang bocor ini bukan hanya soal kebasahan: dinginnya merembes melalui tulang.

Anak-anak dan lansia menjadi rentan terhadap pneumonia, infeksi saluran pernapasan, dan penyakit lain yang diperparah oleh paparan terus-menerus terhadap udara lembap dan tak terisolasi.

Terhalang Bantuan, Tercekik Blokade

Masalah utama yang memperparah tragedi ini adalah kesulitan masuknya bantuan kemanusiaan,.terutama material musim dingin.

Menurut Al Jazeera dan lembaga kemanusiaan lainnya, Israel terus membatasi pasokan tenda, selimut, dan alat pemanas yang sangat diperlukan.

Meski sudah ada kesepakatan gencatan senjata yang mengizinkan pasokan bantuan, kenyataannya jauh dari yang dibutuhkan.

Misalnya, dari ratusan ribu tenda yang dibutuhkan, hanya sebagian kecil yang telah masuk dan dibagikan.

Kondisi ini diperparah oleh fakta bahwa banyak shelter yang ikut rusak: menurut otoritas Gaza, sekitar 93% tenda penampungan sudah tidak layak setelah bertahun-tahun konflik dan terpapar cuaca.

Hidup di Bawah Langit yang Basah dan Angin yang Menyobek

Kebanyakan keluarga di kamp pengusian, satu keluarga berkumpul dalam satu tenda kecil: ayah, ibu, dan tiga anak. Mereka tidur di karpet tipis di atas tanah, dengan selimut yang lembap karena malam sebelumnya hujan masuk melalui terpal yang bocor.

Angin kencang mengguncang struktur tenda, dan suara hujan seakan menjadi alarm yang terus-menerus.

Mereka bergantian mendorong air keluar melalui lubang kecil, berusaha menjaga barang-barang mereka seperti pakaian, dokumen, beberapa baju hangat, agar tidak rusak.

Di pagi hari, mereka bangun ke dalam lumpur. Alas tidur basah, selimut berat karena air, dan aroma kecamuk udara lembap memenuhi ruang sempit itu.

Gelapnya tragedi ini tidak hanya tentang kehancuran fisik: ini adalah kehancuran harapan, kehancuran ketenangan.

Biaya Kemanusiaan yang Tak Terukur

Tidak hanya hipotermia yang mengancam jiwa. Kondisi lembap dan sanitasi yang buruk juga meningkatkan risiko wabah penyakit.

Menurut Anera, genangan air di kamp tenda meningkatkan risiko infeksi kulit, penyakit pernapasan, dan penyakit berbasis air.

Dalam keputusasaan untuk tetap hangat, beberapa warga bahkan melakukan tindakan berbahaya seperti menyalakan api di dalam atau dekat tenda, berisiko terbakar atau keracunan asap.

Selain itu, masalah psikologis semakin dalam: kecemasan, trauma berulang, dan depresi menyelimuti banyak keluarga yang merasa diabaikan oleh dunia.

Sementara itu, lembaga kemanusiaan terus berteriak bahwa tanpa akses penuh ke suplai musim dingin, rentetan korban bisa terus berlanjut.

Tuntutan Mendesak

Menghadapi realita mengerikan ini, YPSP mengusulkan langkah-langkah konkret dan mendesak:

1. Gerakan Internasional

Mendesak agar perbatasan Gaza dibuka secara lebih bebas untuk memasukkan tenda, selimut, peralatan musim dingin (sealing kits), dan bahkan unit rumah darurat. Tanpa akses yang lebih besar, upaya perlindungan terhadap musim dingin akan tetap sangat terbatas.

2. Peran Media Global

Menyalakan sorotan internasional: media global harus terus meliput penderitaan warga Gaza di musim dingin. Cerita ini bukan sekadar konflik militer — ini adalah perang melawan cuaca yang menelan korban.

3. Mobilisasi Lembaga Kemanusiaan

Lembaga kemanusiaan harus meningkatkan distribusi tenda tahan air, selimut isolasi, pakaian hangat, dan alat pemanas. Selain itu, penting untuk mempertimbangkan produksi lokal (atau setidaknya pembelian sebagian) di dalam Gaza untuk mempercepat distribusi dan mengurangi hambatan logistik.

Musim Dingin sebagai Musuh yang Diam

Musim dingin di Gaza bukan hanya fenomena alam, ia telah menjadi senjata tambahan dalam penderitaan yang tak kunjung usai.

Air yang merembes, angin yang mengoyak, dan sunyi malam yang membeku telah menjadi bagian dari realitas baru perang.

Jika dunia membiarkan kesunyian musim dingin ini terus berlanjut, maka penderitaan warga Gaza akan tetap tenggelam dalam air dingin dan angin yang menusuk.

Namun, dengan aksi nyata dari pemerintah, media, dan lembaga kemanusiaan serta solidaritas dari masyarakat Internasional, kita masih memiliki peluang untuk menghadang tragedi ini sebelum musim membunuh lebih banyak nyawa tak bersalah (Marwan Aziz).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *