Gaza, Sepuluh Prinsip Jihad yang Tak Pernah Padam di Tengah Api Penjajahan

Cendekia Terkini

GAZA, KABAR MUSLIM- Di tepi Laut Mediterania, ada sebidang tanah yang sempit namun namanya selalu bergema di mimbar-mimbar dunia: Gaza. Sejak puluhan tahun lalu, wilayah kecil itu menjadi saksi sejarah pertarungan panjang antara penjajahan dan perlawanan.

Gaza tidak hanya sebuah kota, melainkan simbol keteguhan umat yang terzalimi. Dari lorong-lorong sempit kamp pengungsi, dari reruntuhan bangunan yang berkali-kali dihancurkan, lahirlah narasi jihad yang tetap hidup meski zaman berubah.

Dr. Abu al-Bara’ Wael bin Ahmad al-Hams merumuskan sepuluh prinsip tetap jihad Gaza—sebuah panduan yang menyingkap mengapa rakyat Gaza tak pernah menyerah. Prinsip-prinsip itu bukan sekadar teori, melainkan realitas yang bisa dirasakan setiap kali sirene serangan berbunyi atau listrik padam karena blokade.

Jihad yang Paling Suci

Sejak awal, jihad Gaza dipandang sebagai jihad yang paling mulia dan bersih. Mereka tidak berperang untuk ambisi duniawi, melainkan menghadapi kekuatan yang dianggap paling rusak di muka bumi—sebuah entitas yang sepanjang sejarah menebar fitnah dan kerusakan. Dalam pandangan banyak ulama, inilah medan jihad yang tak bisa dibandingkan dengan perlawanan lain, karena di Gaza, hidup dan mati tidak pernah terpisahkan dari keyakinan.

Jihad Orang Terzalimi

Bagi rakyat Gaza, perlawanan bukan pilihan politik, melainkan kebutuhan hidup. Mereka terlahir sebagai pengungsi, tumbuh dalam kepungan dinding beton, dan hidup di bawah bayang-bayang serangan udara. Jihad mereka adalah jihad defensif—membela hak yang dirampas, menjaga Masjid al-Aqsa, mempertahankan tanah warisan, dan menolak proyek perusakan yang ingin menghapus identitas Palestina.

Kewajiban Umat Islam

(Photo by Ashraf Amra/Anadolu via Getty Images)

Dalam narasi ini, Gaza adalah ujian bagi seluruh umat. Setiap Muslim, di manapun berada, punya kewajiban moral dan spiritual untuk menolong. Bukan hanya dengan senjata, tetapi juga dengan harta, kata-kata, doa, dan solidaritas. Membela Gaza bukan kemurahan hati, melainkan amanah syariat.

Tanggung Jawab Tetangga

Ada pula kewajiban yang lebih berat bagi bangsa-bangsa tetangga: Tepi Barat, Yordania, dan Mesir. Kedekatan geografis membuat beban mereka lebih besar. Gaza hanyalah sepelempar batu dari Sinai dan Amman, dan karena itu, sejarah akan menagih peran mereka.

Membongkar Pengkhianat

Namun, realitas politik seringkali pahit. Tidak semua rezim di kawasan berdiri bersama Gaza. Sebagian justru menjadi “anjing penjaga” yang melindungi kepentingan asing. Prinsip kelima ini menegaskan: pengkhianatan harus dibongkar, karena ia adalah sekutu bagi penjajahan.

Gaza Sebagai Cermin Umat

Gaza adalah laboratorium sejarah, cermin yang memperlihatkan siapa yang jujur dalam iman, dan siapa yang hanya pandai berslogan. Di sana terlihat jelas garis pemisah antara keimanan tulus dan kemunafikan. Peristiwa Gaza bukan hanya milik Palestina, melainkan babak besar yang menyingkap wajah umat Islam seluruhnya.

Ujian Kelaparan dan Blokade

Blokade makanan dan obat-obatan adalah senjata lama yang digunakan musuh. Gaza berulang kali dicekik dengan kelaparan, kekurangan listrik, dan keterbatasan air bersih. Namun, di balik penderitaan itu ada tarbiyah ilahi: penyucian jiwa, ujian kesabaran, dan pahala besar bagi mereka yang bertahan. Penderitaan ini, meski menyakitkan, diyakini sebagai rahmat yang mempersiapkan umat menghadapi badai sejarah berikutnya.

Penderitaan Bukan Salah Gaza

Ada yang mencoba menyalahkan pejuang Gaza, seolah-olah penderitaan rakyat adalah akibat jihad mereka. Padahal, prinsip kedelapan menegaskan: semua ini lahir dari kesombongan penjajah dan kolusi para pengkhianat. Gaza hanyalah korban arogansi global yang menindas bangsa kecil dengan tekad besar.

Suara-Suara Menyesatkan

Tidak semua yang berbicara tentang Gaza berhak menafsirkan jihadnya. Ada yang sekadar menjadi corong penguasa zalim, ada yang takut menanggung konsekuensi membela kebenaran, dan ada yang menafsirkan jihad dengan logika bengkok. Gaza menjadi saksi bahwa tidak semua “ilmuwan” berpihak pada kebenaran.

Janji Besar di Ujung Jalan

Prinsip terakhir adalah janji kemenangan. Dalam iman, setiap kesulitan akan diganti dengan pahala besar. Gaza diyakini sebagai jalan menuju lahirnya khilafah di atas manhaj kenabian. Kesudahan dunia ini diyakini akan indah: pertolongan bagi agama Allah, kejayaan Islam, dan kemenangan abadi di surga.


Gaza, Api yang Tak Pernah Padam

Dari sepuluh prinsip ini, kita melihat Gaza bukan sekadar wilayah konflik. Ia adalah api kecil yang terus menyala di tengah gelapnya dunia modern, api yang menguji kejujuran umat dan mengingatkan bahwa perjuangan belum selesai.

Reruntuhan bangunan di Gaza adalah saksi bisu, bahwa setiap bom yang jatuh hanya menambah keyakinan penduduknya. Setiap anak yatim yang lahir dari rahim peperangan membawa pesan abadi: bahwa di balik penderitaan selalu ada janji kemenangan.

Dr. Abu al-Bara’ menutup dengan doa, “Semoga Allah menyejukkan pandangan kita dengan kemuliaan Islam dan kaum Muslimin, serta dengan kehinaan dan kehancuran musuh-musuh agama.”

Dan Gaza, hingga kini, tetap menjadi halaman sejarah yang ditulis dengan darah, air mata, dan keyakinan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *