Dinasti Ummayah, Jejak Para Khalifah Yang Membentuk Wajah Dunia Islam

Cendekia Historial Terkini

Dome of the Rock di Yerusalem tampak luar yang dibangun di zaman Umayyad, Abd al-Malik. Foto : Natgeo.

Pada suatu senja di gurun Syria abad ke-7, angin panas berhembus dari arah barat memasuki tenda-tenda besar milik Bani Umayyah.

Debu beterbangan, membawa aroma pasir dan derap kaki unta para utusan yang datang dari berbagai penjuru negeri—Yaman, Hejaz, hingga Persia.

Di tengah gejolak setelah wafatnya Khalifah Ali bin Abi Thalib, seorang tokoh berwibawa dengan sorot mata tajam duduk merenung: Muawiyah bin Abi Sufyan, cikal-bakal kejayaan Dinasti Umayyah.

Dari detik itu, sebuah kerajaan besar mulai dibangun. Tidak dengan tenang—tetapi dengan badai perang, ambisi, dan gelombang perubahan budaya yang mengubah wajah Timur Tengah.

1. Muawiyah dan Lahirnya Imperium Padang Pasir

Damaskus, 661 M. Kota yang terkenal dengan kebunnya yang hijau, kanal-kanal Romawi yang masih tersisa, dan pasar-pasar tempat pedagang Persia, Arab, dan Romawi bertemu. Dari sinilah Dinasti Umayyah memerintah.

Tembok kota dipenuhi aroma rempah dan suara derap pasukan Syam. Muawiyah memindahkan pusat kekhalifahan dari Madinah ke Damaskus—sebuah langkah radikal yang mengubah Islam dari komunitas spiritual menjadi empire dunia.

Administrasi Romawi Timur diwarisi, bahasa Arab mulai dikodifikasi sebagai bahasa negara, dan tentara-tentara padang pasir berubah menjadi pasukan profesional.

Di era awal ini, fondasi sebuah kekaisaran diletakkan.

2. Yazid, Krisis Karbala, dan Luka yang Tak Pernah Padam

Pada tahun 680 M, Khalifah Yazid I naik takhta.Namun istananya di Damaskus dipenuhi bisik-bisik ketegangan.

Hanya beberapa bulan setelah pengangkatannya, sebuah tragedi terjadi di Padang Karbala.

Di bawah matahari yang membakar padang pasir Irak, pasukan Yazid mengepung keluarga Nabi Muhammad SAW yang dipimpin cucunya, Husain bin Ali.
Bentara-bentara sejarah mencatat darah suci mengalir di tanah itu—sebuah peristiwa yang membelah umat Islam hingga berabad-abad kemudian.

Krisis ini mengguncang legitimasi Umayyah, tapi roda sejarah tak berhenti berputar.

 3. Munculnya Marwan I: Khalifah Singkat dalam Badai

Tahun 683–684 M adalah masa kekacauan. Yazid wafat, putranya Muawiyah II hanya memerintah beberapa bulan sebelum mundur karena sakit.

Di tengah gurun Yaman dan Hijaz yang bergejolak, suku-suku Arab bersaing untuk memperebutkan pengaruh.

Dalam suasana itu—debu pertempuran nyaris tak pernah reda—majlis keluarga besar Umayyah menunjuk seorang tokoh sepuh:

Marwan bin al-Hakam (Marwan I).

Usianya tua, masa pemerintahannya hanya setahun, namun keputusan strategisnya menentukan masa depan dinasti:
Ia mengangkat putranya, Abdul Malik bin Marwan, sebagai penerus.

Dari sinilah lahir cabang Marwaniyah yang kemudian menjadi inti kekuatan Umayyah.

Marwan I adalah khalifah badai. Ia naik dalam kekacauan dan wafat dalam perjalanan menertibkannya.

4. Abdul Malik & Al-Walid: Zaman Keemasan Umayyah

Interior Great Mosque of Córdoba, deretan lengkungan merah-putih, visual ikonik Umayyah Andalusia. Foto : net

Damaskus pada akhir abad ke-7 bukan lagi kota padang pasir. Jalan-jalan lebar dipenuhi para ahli dari Persia, insinyur Romawi, dan penyair Arab.

Di pasar-pasar, uang emas baru dicetak—dinar Abdul Malik—dengan kaligrafi Kufik yang tegas sebagai simbol kedaulatan.

Di bawah Abdul Malik dan putranya Al-Walid I:

  • Penaklukan mencapai Spanyol (711 M) di barat
  • Melampaui sungai Sindh di India (712 M) di timur
  • Dome of the Rock di Yerusalem dibangun dengan kubah emas berkilauan
  • Jalur pos, administrasi pajak, dan birokrasi modern lahir

Para khalifah saat itu memerintah dari istana megah Khirbat al-Mafjar hingga kompleks Al-Rusafa, dikelilingi taman-taman berpilar marmer dan air mancur yang menderu seperti oasis buatan.

Inilah puncak kejayaan Umayyah—sebuah imperium yang membentang dari Pyrenees ke Punjab.

5. Umar bin Abdul Aziz: Cahaya Pendek di Istana Damaskus

Di tengah kemewahan istana berdinding mosaik emas, seorang khalifah berbeda muncul:

Umar bin Abdul Aziz (717–720 M).

Ia menolak kemewahan, memotong anggaran istana, membebaskan pajak berat atas rakyat non-Arab, dan memerintahkan pencatatan hadis besar-besaran. Banyak sejarawan menyebutnya “khalifah kelima” karena keadilannya.

Namun sinar itu singkat. Umar wafat hanya setelah dua tahun memerintah, konon diracun oleh mereka yang terganggu reformasinya.

6. Jalan Menuju Keruntuhan: Fitnah, Perebutan Kekuasaan, dan Kelelahan Kekaisaran

Abad ke-8 adalah masa retaknya istana Damaskus.

Koridor-koridor istana dipenuhi intrik: kudeta, khalifah yang hanya bertahan beberapa bulan, perebutan kekuasaan antar cabang keluarga.

Di perbatasan, pasukan yang dulu perkasa kini kewalahan menghadapi pemberontakan di Khurasan dan Irak.

Nama-nama seperti Al-Walid II, Yazid III, dan Ibrahim hanya melintas sebagai bayang-bayang singkat dalam badai besar yang mendekat.

Hingga akhirnya muncul tokoh yang akan menjadi khalifah terakhir

7. Marwan II: Senja di Padang Pasir

Tahun 744 M. Di tepi sungai Efrat, di bawah langit pucat musim gugur, berdirilah Marwan bin Muhammad (Marwan II).

Ia seorang jenderal tangguh, tetapi memimpin di saat kerajaan retak dari dalam.

Bendera hitam Revolusi Abbasiyah berkibar di Khurasan. Pasukan-pasukannya bergerak seperti gelombang hitam melintasi Irak, membebaskan kota demi kota.

Pada 750 M, dalam pertempuran Zab, Imperium Umayyah runtuh. Marwan II lari hingga ke Mesir, sebelum akhirnya terbunuh di sebuah desa kecil. Debu zaman menutup bab besar sejarah ini.

Namun tak semua keturunan Umayyah lenyap…

8. Kebangkitan Andalusia: Jejak Terakhir sang Dinasti

Seorang pemuda kurus, berusia 20-an tahun, menyelam di sungai Efrat melarikan diri dari pembantaian Abbasiyah. Namanya:

Abdurrahman ad-Dakhil.

Ia menempuh perjalanan ribuan kilometer melintasi gurun, menyamar sebagai petani, bersembunyi di desa-desa Berber—hingga tiba di Andalusia.

Di Córdoba, ia mendirikan Umayyah Andalusia (756–1031 M), meneruskan denyut dinasti yang telah runtuh di Timur.

Di sanalah megahnya Masjid Córdoba dibangun; kota itu menjadi pusat ilmu, astronomi, musik, dan filsafat yang kelak menerangi Eropa.

EPILOG: WARISAN ABADI UMAYYAH

Dinasti Umayyah—dari Marwan I hingga Marwan II—adalah kisah tentang:

  • bangkitnya sebuah kekaisaran padang pasir
  • percampuran budaya Arab, Persia, dan Romawi
  • tragedi dan kemegahan
  • ekspansi yang tak tertandingi
  • hingga keruntuhan yang dramatis

Meski kerajaan Damaskus tumbang, warisannya bertahan: bahasa Arab yang menyebar, birokrasi modern di dunia Islam, arsitektur monumental, dan lahirnya peradaban Andalusia yang memberi cahaya bagi Eropa.

Jejak-jejak itu masih terlihat hingga kini—di reruntuhan istana Ummayad Palace, mozaik Dome of the Rock, dan lengkungan merah-putih Masjid Córdoba.

Semua menjadi pengingat bahwa sebuah dinasti dapat runtuh, tetapi warisannya tak pernah hilang (Marwan Aziz)

A. Sumber-Sumber Klasik (Kitab Tarikh)

  1. Al-Tabari, Tārīkh al-Rusul wa al-Mulūk
    – Salah satu kronik sejarah paling lengkap mengenai era Umayyah, termasuk pemerintahan Marwan I & Marwan II.
  2. Al-Baladhuri, Futūh al-Buldān
    – Membahas perluasan wilayah kekuasaan selama masa Muawiyah hingga puncak Umayyah.
  3. Ibn Katsir, Al-Bidāyah wa al-Nihāyah
    – Menyajikan rangkaian peristiwa sejarah lengkap, termasuk pertumbuhan dan keruntuhan Umayyah.
  4. Ibn Khaldun, Al-Muqaddimah
    – Analisis sosial-politik tentang naik-turunnya dinasti dalam Islam, termasuk Umayyah.

B. Sumber Akademik Modern

  1. Hugh Kennedy – The Prophet and the Age of the Caliphates
    – Buku standar sejarah politik awal Islam, sangat detail tentang Dinasti Umayyah.
  2. Gerald Hawting – The First Dynasty of Islam: The Umayyad Caliphate AD 661–750
    – Referensi akademik kuat mengenai struktur politik & birokrasi Umayyah di Damaskus.
  3. Patricia Crone – Slaves on Horses: The Evolution of the Islamic Polity
    – Analisis kritis mengenai struktur kekuasaan Umayyah hingga Abbasiyah.
  4. W. Montgomery Watt – A History of Islamic Spain
    – Detil perkembangan Umayyah Andalusia dari Abdurrahman I sampai keruntuhannya.
  5. Richard Fletcher – Moorish Spain
    – Narasi sejarah Andalusia dengan gaya deskriptif dan mudah dicerna.
  6. Roger Collins – The Arab Conquest of Spain 710–797
    – Analisis akademik tentang masuknya Umayyah ke Andalusia dan konsolidasi kekuasaan.
  7. John L. Esposito – The Oxford History of Islam
    – Ringkasan akademik luas dari era Nabi hingga berbagai dinasti, termasuk Umayyah.

C. Sumber Tambahan

  • Jurnal International Journal of Middle East Studies (Cambridge)
  • Encyclopaedia of Islam (Brill) – edisi baru dan lama
  • Ensiklopedia Britannica – bagian “Umayyad Dynasty” & “Marwan I / Marwan II”

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *