Air Mata yang Tertahan di Aceh, Isyarat Sunyi Mualem untuk Prabowo

Terkini Ummah

Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) ketika ditanya oleh Najwa Shihab. Foto : Tangkapan layar IG Najwa Shihab.

ACEH, KABAR MUSLIM– Di sebuah titik reruntuhan Aceh yang basah lumpur dan debu, seorang gubernur berdiri menatap jauh.

Kamera menyorot tajam garis wajah itu—tegas, keras, tetapi hari itu tampak rapuh. Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) mengusap wajahnya sambil menahan getaran di dada.

Bukan hanya karena bencana yang meratakan kampung-kampung. Ada sesuatu yang lebih dalam, yang mengendap dan sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Momen itu muncul ketika Najwa Shihab bertanya langsung dan tanpa basa-basi:
“Apakah dengan tidak ditetapkannya status bencana nasional menyulitkan Anda sebagai gubernur?”

Pertanyaan sederhana, namun terasa seperti membuka pintu pada luka yang ditahan.

Mualem mengembuskan napas, menunduk sekejap, lalu menjawab lirih:
“Saya hanya berusaha, hanya berdoa.”

Tak ada kalimat panjang. Tapi mata yang memerah dan suara yang pecah mengatakan lebih banyak dari ribuan kata. Ia bukan hanya menjawab Najwa.

Ia sedang mengadu pada dunia bahwa dirinya berada pada titik paling rumit sebagai pemimpin.

Najwa, dengan empati jurnalis yang matang, melihat jelas air mata yang disembunyikan itu. Dan dari kedekatan kamera, publik pun ikut menyaksikannya.

Dalam jeda yang panjang, Mualem melanjutkan, seolah merangkai kalimat yang sebelumnya tak tersampaikan:

“Kalau kita bergantung pada manusia, kita kecewa. Tapi kalau kita bergantung pada Allah, kita terima semua apa adanya.”

Itu bukan jawaban politik. Itu suara seorang pemimpin yang lelah memikul sesuatu yang tak bisa diperbaiki oleh kata-kata.

Mualem menyusuri Aceh dari udara, melihat garis-garis pemukiman yang hilang seperti terhapus dari peta.

Di daratan, ia menemui warga, memegang tangan yang gemetar, mendengar cerita kehilangan yang sulit dipercaya.

Namun, di tengah semua kepedihan itu, Aceh tidak mendapat status bencana nasional—status yang akan membuka pintu bantuan internasional, mempercepat logistik, dan membebaskan birokrasi yang mengunci banyak negara yang sudah siap mengirim pesawat bantuan.

Kabarnya, Malaysia pun siap, tetapi lampu hijau belum datang. Hanya bantuan personal yang bisa masuk.

Dan pada satu titik, kalimat Mualem keluar begitu keras dan jujur:
“Mereka tolong kita, masak kita persulit, kan bodoh!”

Kalimat itu seperti palu yang menghantam meja kekuasaan. Tegas, tanpa topeng, tanpa sensor. Kalimat seorang gubernur yang sudah terlalu lama menunggu pintu dibuka.

Bagi sebagian orang, kata-kata itu terdengar sebagai keluhan. Bagi yang lain, itu sebuah sinyal. Sinyal bahwa ada jarak baru yang muncul antara Mualem dan pusat kekuasaan.

Sebab Aceh tidak sekadar sebuah provinsi. Aceh adalah wilayah yang sejarahnya begitu dekat dengan narasi negara.

Di masa agresi militer Belanda, ketika Indonesia seperti kehilangan napas terakhir, Aceh-lah yang berdiri dan menyatakan:“Indonesia masih ada.”

Ironisnya, ketika Aceh kini sekarat oleh bencana, Indonesia belum menyatakan:
“Ini bencana nasional.”

Dalam diam, di balik isak yang tertahan saat wawancara, Mualem seolah sedang berbicara kepada seseorang yang pernah begitu dekat dengannya: Prabowo Subianto.

Sosok yang ia dampingi, ia peluk, ia sambut saat kunjungan-kunjungan resmi. Foto-foto kedekatan mereka bertebaran: duduk bersama di mobil, berjalan berdampingan di tarmac bandara, menyapa rakyat Aceh dengan bahasa yang sama.

Hubungan itu bukan hubungan artifisial. Ia dipupuk dalam perjalanan politik panjang.

Namun, pada hari-hari paling gelap Aceh, dukungan yang paling dibutuhkan—penetapan status bencana nasional—tak kunjung datang. Dan di situlah publik Aceh mulai bertanya: Ada apa sebenarnya?

Mungkin Mualem tidak pernah berniat “meninggalkan” Prabowo. Mungkin air mata itu bukan air mata perpisahan politik.

Namun isyarat itu nyata. Disampaikan tanpa kata-kata. Disiratkan lewat kalimat terbata yang keluar dari hati.

Ia telah berkata cukup: Tentang bantuan asing yang tertahan.Tentang rakyat Aceh yang menunggu.Tentang beban yang ia pikul sendirian.

Selebihnya, ia serahkan kepada Allah—dan kepada rakyat yang membaca tanda-tanda zaman lebih cepat dari para elite.

Aceh kembali menunggu. Dan publik Indonesia, seperti penulis catat, kini sibuk membaca isyarat itu di timeline, di grup WhatsApp, di jagat maya.

Kadang, dalam politik Indonesia, bukan pernyataan keras yang mengubah arah.
Tetapi air mata yang ditahan di depan kamera.

Dan air mata Mualem itu, mungkin, adalah pesan paling jujur yang ia kirimkan hari ini (Wan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *