Di lembah Uhud yang sunyi—tanah merah yang sekarang hanya dikunjungi peziarah—tersimpan sebuah kisah langka tentang hidayah, keberanian, dan detik-detik terakhir seorang lelaki yang berlari menuju iman.
Kisah ini telah disebutkan dalam sejumlah kitab sirah dan hadits sahih, di antaranya riwayat Imam Muslim dan Imam Ahmad, dan menjadi salah satu cerita paling menggugah dari generasi sahabat.
Jejak Kebencian di Kota Nabi
Pada masa itu, Madinah masih muda sebagai kota iman. Di tengah masyarakat Bani Ashal, salah satu kabilah yang berbondong-bondong masuk Islam, hidup seorang lelaki bernama Amr bin Uqaisy.
Berbeda dengan kaumnya, ia memandang Islam sebagai ancaman. Ia keras, menutup diri, dan tidak pernah sekalipun menghadiri majelis Rasulullah.
Bagi Amr, hidupnya sudah cukup tanpa agama baru itu. Dan ia memegang keyakinan itu dengan seluruh kesombongan yang ia punya.
Namun sejarah sering berputar di titik-titik yang tak disangka.
Pertanda di Hari Uhud
Pagi itu genderang perang menggema dari arah Gunung Uhud. Cahaya matahari jatuh pada barisan pasukan Muslim yang keluar dari Madinah, dan di balik debu yang bergerak, seorang lelaki tiba-tiba merasa kehilangan.
Amr bin Uqaisy mencari kawan-kawannya, tetapi tak satu pun ia temui. Semuanya telah berangkat bersama Rasulullah.
Untuk pertama kalinya, hatinya tersentuh oleh sesuatu yang tak bisa ia jelaskan—sebuah panggilan yang dalam.
Ia pulang, mengenakan baju besi, menaiki kudanya, dan mengarahkan langkah ke medan perang. Para sahabat yang melihat kedatangannya kebingungan.
“Wahai Amr, menjauhlah dari kami!” teriak mereka.
Bagaimana mungkin lelaki yang terang-terangan memusuhi Islam kini mendekati barisan mereka di saat genting?
Di tengah gemuruh pedang dan teriakan perang, ia menjawab dengan suara yang mengguncang:
“Aku telah beriman!”
Ucapan itu mengubah arah hidupnya selamanya.
Pertarungan Sehari, Pengorbanan Seumur Hidup
Tanpa jeda, Amr menerjang barisan musyrikin. Islam baru saja masuk ke dadanya, namun keberanian itu seakan telah dipupuk sejak lama.
Di medan yang panas, ia mengayunkan pedang seolah ingin menebus seluruh masa lalunya.
Ia berperang seolah hidupnya hanya memiliki satu sore, dan sore itu ia serahkan sepenuhnya kepada Allah.
Saat peperangan mereda, tubuh Amr roboh dengan luka-luka yang dalam. Para sahabat membawanya pulang, menidurkannya di rumahnya. Nafasnya tersengal, namun matanya jernih.
Sa’d bin Mu’adz radhiyallahu ‘anhu—pemimpin besar dari Aus—datang mendekat.
“Tanyakan kepadanya,” kata Sa’d kepada keluarganya,
“apakah ia berperang demi kaumnya atau demi Allah dan Rasul-Nya?”
Pertanyaan itu disampaikan kepada Amr. Dengan suara yang nyaris padam ia berkata:
“Marah karena Allah dan Rasul-Nya.”
Jawaban itu menggetarkan banyak hati. Ia telah beriman di saat tersulit dan membuktikan keimanannya dalam waktu yang bahkan tidak mencapai satu hari penuh.
Tak lama kemudian, sahabat yang baru menemukan cahaya itu menghembuskan nafas terakhir.
Ia wafat sebagai syahid Uhud.
“Ia Termasuk Penghuni Surga.”
Yang membuat kisah ini abadi adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat mendengar wafatnya Amr. Nabi menegaskan bahwa ia adalah ahli surga, meskipun:
ia baru masuk Islam pada hari itu,
ia belum sempat berwudhu, bahkan ia belum pernah menunaikan satu rakaat shalat pun dalam hidupnya.
Riwayat ini disebutkan oleh Imam Muslim dalam Sahih Muslim, bab Iman, dan juga oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya.
Dalam beberapa syarah hadits, para ulama menegaskan bahwa Amr mencapai derajat itu karena keimanan yang benar, ketulusan yang total, dan pengorbanan yang murni—yang semuanya bertemu pada satu sore terakhir hidupnya.
Di Antara Debu Uhud, Sebuah Kisah Hidayah
Hari ini, peziarah yang berjalan di sekitar bukit Uhud mungkin tidak pernah mendengar nama Amr bin Uqaisy.
Namun kisahnya tetap hidup dalam literatur Islam, menjadi salah satu contoh paling indah tentang bagaimana hidayah dapat datang pada detik terakhir, dan bagaimana seseorang bisa mengubah seluruh takdirnya dengan satu keputusan yang jujur.
Kisah Amr bin Uqaisy, tentang manusia yang berpacu dengan ajal, tentang keberanian yang muncul dari kedalaman spiritual, dan tentang bagaimana sejarah mencatat mereka yang memilih untuk kembali kepada kebenaran di saat pintu-pintu dunia hampir tertutup.
Ia datang kepada Allah dengan iman yang baru tumbuh, namun Allah menyambutnya dengan kemuliaan surga.
Semoga Allah meridhainya.
Amin.

