Safari Maut di Sarajevo, Ketika Perang Menjadi Tontonan Gelap

Terkini Ummah

Lebih dari 11 ribu orang tewas dalam Perang Bosnia pada paruh pertama dekade 1990-an. Foto : AFP.

BOSNIA, KABAR MUSLIM– Di musim dingin Sarajevo, pada akhir 1993, embusan angin pegunungan membawa aroma asap mesiu dan kayu basah. Kota yang dikepung lebih dari 1.400 hari itu pengepungan terpanjang dalam sejarah modern Eropa, sedang bergulat mempertahankan denyut hidupnya.

Di antara gedung-gedung yang tertembak habis dan apartemen yang menganga, warga kota berlari menunduk, seolah setiap langkah adalah negosiasi tipis dengan maut.

Pada masa kelam itulah tersiar kabar ganjil di antara para prajurit Bosnia: ada orang-orang asing yang datang ke perbukitan sekitar Sarajevo bukan untuk membantu, bukan untuk meliput, bukan pula untuk berperang melainkan untuk membayar agar bisa menembak warga sipil. Mereka menyebutnya “sniper safari.”

Gunung-Gunung yang Menjadi Galeri Kematian

Menurut kesaksian seorang perwira Bosnia kepada kantor berita Italia ANSA, yang kemudian dikutip BBC News Indonesia (2024), informasi pertama tentang “safari penembak jitu” itu muncul pada akhir 1993.

Keterangan gambar,Potret seorang warga Sarajevo yang menjadi target penembak jitu dalam Perang Bosnia, 4 Agustus 1993. Foto : AFP.

Para “turis safari” itu dilaporkan hendak terbang dari Trieste, kota di perbatasan utara Italia, menuju Bosnia. Dari sana mereka dijanjikan pengalaman mengerikan: membidik warga Sarajevo dari perbukitan.

“Kami telah menghentikannya. Tidak akan ada lagi safari,” kata sang perwira mengutip respons dinas intelijen militer Italia, SISMI, yang disebut menerima informasi tersebut pada awal 1994 seperti dikutip Kabar Muslim dari BBC.

Beberapa bulan kemudian, menurut kesaksian itu, “tur” mematikan itu berhenti. Namun rumor dan jejaknya tetap bergema.

Jejak Bayangan: Ketika Film Dokumenter Memicu Penyelidikan

Dua dekade setelah perang usai, wartawan investigasi Italia, Ezio Gavazzeni, menemukan kembali fragmen kabar itu dalam arsip koran Corriere della Sera.

Beritanya tipis, hampir tanpa bukti. Tapi setelah Gavazzeni menonton film dokumenter Slovenia “Sarajevo Safari” (2022) karya sutradara Miran Zupanič—yang menuding adanya warga Amerika, Rusia, dan Italia yang membayar untuk memburu warga sipil,.ia mulai merasakan ada sesuatu yang jauh lebih besar.

Hasil investigasinya diserahkan kepada jaksa di Milan pada Februari 2024. Berkas itu 17 halaman panjangnya, berisi laporan saksi dan korespondensi, termasuk pernyataan dari mantan Wali Kota Sarajevo, Benjamina Karic.

Dalam wawancara dengan La Repubblica, Gavazzeni menyebut sedikitnya 100 orang mungkin terlibat dalam safari itu.

Warga Italia yang ikut membayar hingga €100.000 atau sekitar Rp1,9 miliar untuk pengalaman yang hanya bisa digambarkan sebagai salah satu titik nadir moral manusia.

Meski demikian, otoritas Bosnia diyakini telah menghentikan penyelidikan lokal bertahun-tahun sebelumnya.

Ruang Bidik di Atas Kota

Gambaran paling menyeramkan tentang era itu bisa ditemukan dalam foto-foto AFP: warga Sarajevo berlari menyeberangi jalan-jalan yang dikenal sebagai “Sniper Alley”, dengan peluru sering melesat di atas kepala mereka.

Setiap jendela gedung pencakar langit menjadi potensi lubang bidik; setiap bukit menjadi menara pengintai.

Dari catatan pengadilan internasional ICTY dan BBC (2017, 2020), para komandan Serbia-Bosnia seperti Ratko Mladić dan Radovan Karadžić diketahui memerintahkan operasi penembakan dan pengeboman acak terhadap warga sipil.

Mladić kemudian dihukum seumur hidup atas genosida dan kejahatan perang, sementara Karadžić juga dipenjara seumur hidup.

Dalam lanskap seperti itu, gagasan bahwa orang asing datang untuk “berburu manusia” terasa mengerikan, namun bagi sebagian saksi tidak mustahil.

Sosok-Sosok dari Luar: Antara Kekaguman dan Kekejaman

Pada 1992, penulis dan politikus nasionalis Rusia, Eduard Limonov, terekam kamera menembakkan senapan mesin berat ke arah Sarajevo.

Ia tidak membayar; ia diundang. Dalam sebuah dokumenter, ia berkata kepada Karadžić:

“Kami orang Rusia harus mengambil contoh dari Anda.”

Aksi Limonov—yang sempat viral pada 1990-an—sering disebut sebagai bukti bahwa para simpatisan asing memang datang ke garis depan, sebagian untuk bertempur, sebagian sekadar untuk membakar adrenalin.

Namun apakah “turis safari” lain benar-benar ada? Atau ini sekadar kisah abu-abu yang lahir dari kekacauan perang?

Dua Dunia Kesaksian

Menariknya, sejumlah eks tentara Inggris yang bertugas di Sarajevo menolak cerita tersebut.

Dalam wawancara, mereka menyebut “mitos” karena hampir mustahil membawa warga negara ketiga melewati banyak pos pemeriksaan ketat.

Tetapi kesaksian prajurit Bosnia, investigasi Gavazzeni, dan film-film dokumenter justru menunjukkan pola berbeda:

Mengapa para penembak itu harus melewati pos pos resmi? Bukankah jaringan mafia Balkan dan para komandan lokal sering memiliki jalur belakang?

Di tengah kabut perang, sulit untuk memisahkan fakta keras dari legenda kelam.

Senja di Kota yang Terkepung

Yang jelas, Sarajevo kala itu adalah panggung penderitaan yang hampir tanpa saksi. Ribuan warga Muslim Bosnia ditembak, dibom, disergap kelaparan.

Di wilayah lain, pembantaian Srebrenica 1995 yang memakan lebih dari 8.000 nyawa Muslim Bosnia, menjadi noda yang tidak akan hilang dari sejarah Eropa modern (BBC, 2020).

Di ruang-ruang gelap seperti inilah safari maut mungkin terjadi: Bukan sebagai operasi resmi, melainkan sebagai perdagangan bayangan, memanfaatkan kekacauan, kekuasaan lokal, dan nilai hidup manusia yang jatuh ke titik paling rendah.

Warisan Luka yang Belum Sembuh

Hingga kini, penyidik Italia masih mencoba mengidentifikasi para saksi yang mungkin mengetahui “safari penembak jitu” itu.

Sementara di Sarajevo, banyak warga menolak membicarakannya—terlalu pahit, terlalu absurd.

Bagaimana mungkin, tanya mereka, di tengah neraka yang mereka alami, ada orang asing yang datang untuk menonton, bahkan ikut menambah penderitaan?

Kisah ini mungkin tidak pernah memiliki jawaban final.

Sebagaimana banyak hal dalam perang, sebagian kisah terkubur di antara reruntuhan, tersapu oleh waktu dan rasa malu.

Namun fragmen-fragmen tanda itu cukup untuk mengingatkan kita:

bahwa terkadang, sejarah tidak hanya diisi oleh pahlawan dan penjahat, tetapi juga oleh penonton yang membayar tiket untuk menyaksikan tragedi atau mengambil bagian di dalamnya.

Sumber Riset Utama

– BBC News Indonesia:

* 25 tahun kasus pembantaian Muslim di Srebrenica” (2020)

* Siapa Ratko Mladic” (2017)

* Komandan militer ‘Jagal dari Bosnia’ minta dibebaskan” (2020)

* Laporan investigasi safari penembak jitu Sarajevo” (2024)

– ANSA

– ICTY (International Criminal Tribunal for the former Yugoslavia) – putusan terhadap Ratko Mladić dan Radovan Karadžić.

– Corriere della Sera

– La Repubblica – wawancara dengan jurnalis Ezio Gavazzeni.

– Dokumenter “Sarajevo Safari” (2022), karya Miran Zupanič.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *