Misteri Tanah yang Bergerak, Hari-Hari Mencekam Operasi SAR Longsor Cilacap

Terkini Ummah

Alat berat aktif melakukan pengerukan pada titik longsor yang telah diasesmen dan diduga terdapat korban yang tertimbun material longsor Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, pada Sabtu (15/11). Foto : SAR.

CILACAP, KABAR MUSLIM– Di Desa Cibeunying, Cilacap, Jawa Tengah, deru mesin eskavator bersahut-sahutan dengan dengus napas para relawan yang menyibak tanah basah.

Aroma lumpur yang masih segar memenuhi udara, berpadu dengan kabut tanah yang beterbangan dari dasar bukit yang runtuh.

Inilah kondisi hari ketiga operasi SAR, ketika harapan dan kenyataan berpacu dalam balutan tanah yang terus bergeser.

Tanah longsor yang terjadi Kamis malam itu seperti membuka perut bukit, melahap rumah-rumah dalam gelap yang sunyi.

Dari kejauhan, area longsor tampak seperti hamparan cokelat kusam, penuh bongkahan tanah, pepohonan patah, beton retak, dan reruntuhan rumah yang tak lagi dikenali bentuknya.

Di jalur ini, waktu menjadi musuh. Dan tim SAR harus bergerak melawan jam yang terus berdetik.

Hari Ketiga: Ditemukan 8 Jenazah di Bawah Langit Mendung

Pukul 07.30 WIB, Sabtu (15/11), tim SAR gabungan memulai penyisiran. Langit Majenang gelap, awan tebal seperti menggantung rendah di atas bukit Cibeunying.

Para petugas tahu, jika hujan turun, pergerakan tanah bisa berulang. Dan longsor susulan adalah mimpi buruk yang selalu mengintai dari balik tebing.

Di hari itulah, delapan jasad ditemukan dalam keadaan tertimbun. Sebagian di antaranya sudah tidak utuh.

Dua potongan tubuh kemudian diidentifikasi sebagai satu nama. Dengan temuan ini, total korban meninggal menjadi 11 jiwa.

Sementara 12 orang masih hilang, diduga berada di bawah timbunan setinggi 2 hingga 8 meter.

Tim bekerja dengan lima sektor pencarian yang terbentang di tiga dusun: Cibeunying, Cibuyut, dan Tarukahan, sebuah wilayah yang kini berubah menjadi mosaik lumpur dan kehancuran.

“Setiap meter tanah yang kami gali, harus dengan sangat hati-hati,” ujar salah satu petugas Basarnas, sambil mengusap peluh yang bercampur debu.

520 Petugas, 7 Eskavator, dan Bencana yang Terlalu Besar

Penguatan operasi pada hari ketiga datang dengan tambahan besar: 520 personel dikerahkan ke lokasi bencana.

Malam sebelumnya, alat berat ditambah. Namun saat Brigjen Budi Irawan, Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB, meninjau lokasi pada pagi hari, ia melihat langsung tantangannya,.hamparan longsor begitu luas, terlalu massif untuk peralatan seadanya.

“Jika kemarin saya minta delapan eskavator, pagi ini saya minta tambah lagi empat. Total 12 unit alat berat. Material longsor terlalu tinggi untuk digarap cepat tanpa alat berat,” tegasnya.

Tumpukan tanah setinggi 8 meter itu bukan sekadar tanah, ia adalah lapisan-lapisan hidup warga yang tak sempat menyelamatkan diri.

19 Anjing Pelacak: Hidung Terbaik Melawan Batas Waktu

Dalam operasi sebesar ini, bukan hanya manusia yang turun ke medan. Sebanyak 19 anjing pelacak didatangkan dari berbagai satuan di Jawa Tengah.

Mereka adalah pekerja profesional dengan insting paling tajam: Belgian Malinois dan German Shepherd yang dilatih untuk pencarian jenazah.

Salah satu yang paling mencolok hari itu adalah Buddy, German Shepherd dari Polres Temanggung. Dengan hidungnya yang waspada dan gerak sigap, Buddy menemukan empat lokasi yang diduga titik korban tertimbun.

Di sisi Buddy ada Jack D, anjing pelacak milik Polres Cilacap, bergerak cepat menyisir tanah yang masih labil.

Dari atas bukit, terlihat bagaimana anjing-anjing ini bekerja tanpa suara,.mencium, berhenti, menggonggong pendek, lalu mengarah pada satu titik.

Saat hidung mereka berhenti, eskavator mulai bergerak pelan, seolah mengikuti isyarat bahwa di bawah sana ada seseorang yang menunggu ditemukan.

Cuaca: Sekutu yang Tak Terduga, Musuh yang Tak Terhindarkan

Pada Sabtu itu, tim SAR beruntung—hujan tidak turun. Tetapi awan gelap terus menekan dari barat, seolah memberi peringatan bahwa waktu untuk bekerja tidak panjang.

Prakiraan cuaca dari BMKG memperkirakan hujan intensitas sedang hingga tinggi akan turun hingga Minggu (16/11).

Hujan bukan sekadar air dari langit—di tanah longsor seperti ini, hujan bisa berarti kematian kedua.

Tanah yang jenuh air mudah bergerak. Tebing yang tampak stabil bisa runtuh kapan saja. Itulah sebabnya operasi SAR hanya sampai pukul 16.00 WIB untuk memastikan seluruh tim kembali dengan selamat.

“Kalau situasi memungkinkan, manusia bisa bergiliran. Tapi alat berat harus jalan 24 jam,” ujar Deputi Budi Irawan.

Di Balik Angka-Angka, Ada Kehilangan yang Lebih Dalam

Di posko pengungsian, suara tangis keluarga yang menunggu kabar terdengar lebih nyaring daripada suara alat berat.

Setiap temuan jenazah adalah kabar duka—namun juga kepastian yang mengakhiri penantian yang tidak menentu.

Di balik setiap angka korban, ada nama. Ada rumah yang hilang. Ada kehidupan yang tak sempat diceritakan.

Ketika Langit Mulai Gelap

Pukul 16.00 WIB, operasi dihentikan. Matahari meredup di balik kabut. Eskavator berhenti. Anjing-anjing pelacak diistirahatkan.

Petugas berjalan kembali ke posko sambil menyisakan jejak lumpur di sepanjang jalan.

Tetapi longsor di Cibeunying belum selesai. Dua belas orang masih hilang. Dan waktu terus berjalan.

Tanah Bercerita Lewat Kesunyian

Dalam tragedi seperti ini, tanah bukan hanya reruntuhan, ia adalah saksi bisu yang menyimpan banyak cerita.

Di Cibeunying, setiap galian adalah upaya mengembalikan martabat manusia yang hilang di balik bencana. Dan di sanalah, manusia, alat berat, dan anjing pelacak bekerja bersama.

Membelah tanah, membuka harapan, dan memastikan tak ada satu pun kehidupan yang hilang tanpa dicari (Wan).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *