Bung Tomo dan Pertempuran Surabaya, Ketika Takbir Menggema di Atas Kota yang Membara

Cendekia Terkini

Bung Tomo dan pertempuran Surabaya. Foto : Ist.

SURABAYA, KABAR MUSLIM– Pagi berkabut di Surabaya, November 1945, suara ledakan dan bayang asap sudah menjadi bagian dari udara.

Jalan-jalan kota yang biasanya ramai pedagang kini berubah menjadi lorong pertempuran.

Di sela hiruk pikuk itu, ada suara lain yang menembus kekacauan. Suara itu tidak berasal dari mortir atau senapan.

Suara itu muncul dari radio sederhana yang pemancarnya berpindah-pindah, mencoba menghindari penyergapan pasukan Sekutu.

Suara itu milik seorang pemuda 25 tahun, mantan jurnalis, orator alami yang kelak menjadi ikon perlawanan: Bung Tomo.

Suara yang Membelah Sunyi dan Ketakutan

Di balik dinding-dinding kayu studio Radio Pemberontakan, Bung Tomo berdiri tegak. Mikrofon berada beberapa sentimeter dari bibirnya.

Di sekelilingnya, para teknisi muda dari Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI) menjaga agar siaran tetap berjalan.

Setiap menit sangat berharga. Pasukan Inggris memburu lokasi pemancar. Bila ketahuan, studio itu akan musnah dalam hitungan detik.

Yang ia lantangkan bukan sekadar ajakan melawan. Suaranya membawa getaran spiritual yang khas. “Allahu Akbar!” pekiknya, berulang kali, dengan nada yang mencampur keberanian dan doa.

Bagi para pemuda Surabaya, takbir itu bukan sekadar seruan agama. Itu menjadi pengikat moral dan penegas identitas. Semangat melawan bukan lagi sekadar urusan politik. Ia berubah menjadi panggilan jiwa.

Sejarawan William H. Frederick dalam jurnal Indonesia (1982) menulis bahwa kepribadian Bung Tomo terbentuk sejak masa mudanya di organisasi kepanduan KBI.

Latihan kepemimpinan dan teknik berpidato mengasah intuisinya untuk mempengaruhi massa. Di sinilah letak daya ledak Bung Tomo: ia memahami bagaimana kata-kata bisa menjadi senjata.

Surabaya yang Memanas: Kota Bandar yang Menolak Takluk

Kedatangan AFNEI pada September 1945 bukan sekadar misi damai. Di balik bendera Sekutu, ada langkah senyap NICA yang ingin menegakkan kembali kendali kolonial Belanda di Indonesia.

Surabaya, kota pelabuhan yang keras dan egaliter, menyadari ancaman itu lebih cepat dibanding kota-kota lain.

Ketegangan memuncak setelah Insiden Hotel Yamato pada 19 September. Merobek bendera Belanda di atap hotel menjadi simbol bahwa Surabaya tidak akan tunduk.

Puncaknya datang pada 30 Oktober 1945. Brigjen A.W.S. Mallaby tewas dalam baku tembak yang masih menjadi perdebatan sejarah hingga hari ini.

Inggris tersulut amarah. Ultimatum dilayangkan. Seluruh pejuang Surabaya diminta menyerah tanpa syarat.

Tidak ada yang ingin menyerah. Bung Tomo menjadi juru bicara bagi seluruh emosi rakyat Surabaya.

Ia memanggil para perantau pulang. Ia menyeru para santri, para pemuda kampung, para buruh pelabuhan, para pedagang, dan para perempuan penjaga dapur umum. Kota itu memanas oleh tekad yang tidak tertulis: Surabaya akan bertahan.

10 November: Hari Ketika Surabaya Berubah Menjadi Benteng Raksasa

Fajar 10 November menyingsing bersama dentuman meriam kapal perang Inggris HMS Sussex dan HMS Royalist.

Ribuan serdadu mendarat dengan tank, panser, senapan otomatis Bren, dan mortir. Kekuatan mereka tak tertandingi. Namun Surabaya tidak mundur.

Dari gang hingga jembatan, dari pasar hingga rumah-rumah ibadah, para pemuda bertahan.

Mereka memanfaatkan celah kota lama untuk menghambat gerak pasukan Inggris. Ada cobek yang berubah menjadi senjata. Ada bom molotov rumahan yang dilempar dari atap. Ada regu santri yang maju dengan seruan takbir.

Bung Tomo terus bersiaran, memantik semangat di tengah kekacauan. Setiap orasinya meluas seperti gelombang kecil yang menguatkan moral di sudut-sudut kota.

Tekanan Inggris begitu besar. Kerugian rakyat Surabaya tak terhitung. Pertempuran berlangsung berhari-hari.

Namun satu fakta selalu diingat: pasukan Inggris butuh waktu lebih dari tiga minggu untuk sepenuhnya menguasai kota. Padahal mereka memprediksi operasi hanya berlangsung dua hari.

Majalah Time edisi Desember 1945 menulis bahwa Surabaya adalah “the fiercest battle of the Indonesian Revolution.” Dunia internasional terkejut oleh intensitas perang di sebuah kota kolonial yang baru saja merdeka.

Jejak Spiritual dan Kepahlawanan di Tanah Ulama

Dalam ingatan banyak warga Surabaya, perlawanan itu tidak bisa dilepaskan dari nilai spiritual kota tersebut.

KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, telah mengeluarkan seruan jihad pada 22 Oktober 1945.

Seruan itu bukan retorika perang. Ia bertumpu pada etika pembelaan terhadap tanah air, martabat manusia, dan harga diri bangsa yang terancam.

Semangat itu membentuk karakter Surabaya. Ketika Bung Tomo mengumandangkan takbir dari radio, para pemuda dan laskar dari berbagai latar belakang merasakan energi yang sama: mempertahankan kemerdekaan adalah kewajiban moral.

Inilah alasan mengapa narasi 10 November bukan sekadar cerita perang. Ia menjadi kisah tentang hubungan erat antara iman, keberanian, dan pembelaan terhadap kemerdekaan.

Bung Tomo: Dari Orator Revolusi hingga Peziarah Terakhir di Padang Arafah

Sutomo tidak pernah menganggap dirinya pahlawan tunggal. Banyak rekannya gugur, banyak pemuda kehilangan masa dewasa mereka, dan Surabaya berduka lama setelah dentuman mereda.

Namun sejarah menempatkan Bung Tomo di ruang khusus. Ia menjabat Menteri Negara Urusan Veteran pada 1955 dan menjadi anggota DPR.

Suatu hari pada 1981, dalam perjalanan ibadah haji, ia wafat di Padang Arafah. Jenazahnya dipulangkan ke Surabaya dan dimakamkan di TPU Ngagel, sesuai wasiatnya: tidak ingin ditempatkan di taman makam pahlawan.

Ada keteguhan hati dalam keputusan itu. Bung Tomo ingin tetap dekat dengan rakyat.

Warisan: Kota Pahlawan dan Semangat yang Tidak Padam

Hari Pahlawan bukan perayaan kemenangan. Hari itu mengingatkan kita bahwa kedamaian yang kita nikmati sekarang adalah hasil dari keberanian sebuah kota yang memilih untuk tidak tunduk.

Semangat Surabaya, semangat para santri dan arek-arek kampung yang hanya bertumpu pada tekad dan takbir, mengingatkan kita bahwa kemerdekaan bukan hadiah.

Ia diperjuangkan. Ia dijaga.

Dan hari ini, ia diwariskan kepada kita kita, yang mesti kita jaga dan isi dengan sebaik-baiknya (Marwan Aziz).

Sumber Pustaka

1. Tirto.id, “Peran Bung Tomo dalam Pertempuran Surabaya 10 November 1945,” diakses 2025.

2. Frederick, William H. “In Memoriam: Sutomo.” Indonesia, Cornell University, 1982.

3. Barlan Setiadijaya, 10 November ‘45: Gelora Kepahlawanan Indonesia, 1992.

4. Fery Taufiq, Pekik Takbir Bung Tomo, 2020.

5. Chairul Riza, Radio Pemberontakan dan Perannya dalam Revolusi Kemerdekaan di Surabaya 1945–1947, 2006.

6. Arsip Time Magazine, Desember 1945.

7. Badan Nasional Pencarian Sejarah, Kementerian Pendidikan RI, dokumentasi Hari Pahlawan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *