Masyumi, Jejak Sebuah Bintang Besar di Langit Republik Muda

Cendekia Terkini

Para pendukung dan simpatisan Partai Masyumi. Foto : Ist.

YOGYAKARTA, KABAR MUSLIM– Indonesia, akhir tahun 1945. Kabut pagi turun pelan di kawasan Kotabaru, Yogyakarta.

Kota itu masih menyimpan jejak kaki pasukan Jepang yang baru hengkang beberapa bulan lalu.

Jalanan tampak lengang kecuali beberapa pedagang sayur dan anak-anak yang berlarian tanpa alas kaki.

Di kejauhan, suara adzan Subuh menggema dari surau kecil, menggaungkan semangat baru bagi bangsa yang tengah merangkak berdiri.

Republik yang Baru Bangkit dari Abu

Di sebuah bangunan sederhana dengan dinding yang masih beraroma kapur, beberapa sosok penting umat Islam memasuki ruangan.

Di antara mereka tampak Mohammad Natsir, Fakih Usman, Kasman Singodimedjo, Mohammad Roem, dan tokoh-tokoh ormas Islam lainnya.

Mereka datang bukan untuk sekadar rapat rutin. Mereka datang untuk membentuk wadah baru, wadah yang menyatukan kekuatan politik umat Islam di republik yang sedang dibangun.

Dalam ruangan yang tak begitu luas itu, pada 7 November 1945, lahirlah: Majelis Syuro Muslimin Indonesia yang disingkat MasMasyum, inilah kelahiran salah satu partai paling berpengaruh dalam sejarah politik Indonesia yang lahir dari para intelektual Muslim Indonesia.

Ketika sebuah Partai Menjadi Suara Umat

Sebenarnya Masyumi telah diperkenalkan Jepang pada 1943 sebagai alat pengendali umat Islam.

Namun setelah Indonesia merdeka, organisasi itu tidak lagi tunduk pada Jepang. Tokoh-tokoh Muslim mengambil alih sepenuhnya dan mengubahnya menjadi partai politik terbesar umat Islam.

Dalam beberapa bulan, Masyumi berubah dari organisasi semi-birokratik menjadi mesin politik raksasa yang melintasi pulau-pulau Nusantara.

Masyumi berkembang seperti nyala api yang menyebar cepat pada daun-daun kering. Di tengah semangat revolusi, ia menjadi wadah aspirasi yang tak tertampung oleh struktur politik lama.

Basis Nasional yang Tidak Tertandingi

Survei sejarah menunjukkan bahwa pada awal 1950-an, anggota Masyumi mencapai 10 juta orang. Itu menjadikannya salah satu partai dengan basis terluas dalam sejarah Indonesia.

Kekuatan itu tidak hanya berada di Jawa, tetapi juga:

• Sumatra Barat

• Aceh

• Riau

• Kalimantan

• Sulawesi Selatan

• Sulawesi Tengah

Di daerah-daerah itu, Masyumi menang telak pada Pemilu 1955. Di Sumatra Barat saja, suara untuk Masyumi mencapai 42 persen—angka yang hampir mustahil dicapai partai manapun di era sekarang.

Masyumi diterima sebagai simbol intelektualitas Islam, modernisme, dan keterbukaan.

Pencapaian Politik Masyumi

Peran di Pemerintahan: Dari Wakil Rakyat hingga Perdana Menteri

Pada awal era demokrasi parlementer, Masyumi langsung menunjukkan kapasitasnya. Tokoh-tokohnya dikenal jujur, bersih, dan berwawasan internasional.

Dua sosoknya yaitu Mohammad Natsir dan Burhanuddin Harahap dipercaya menjabat sebagai Perdana Menteri Indonesia.

Kabinet Natsir (1950) – Mosi Integral

Mosi Integral yang dibuat Natsir adalah salah satu karya politik terbesar Masyumi. Indonesia yang semula berbentuk Republik Indonesia Serikat disatukan menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia tanpa pertumpahan darah.

Tidak ada satu pun kelompok politik lain yang berhasil menyatukan Indonesia secara damai seperti yang dilakukan Natsir.

Kabinet Burhanuddin Harahap (1955–1956)

Kabinet ini terkenal sebagai kabinet yang berhasil:

• membersihkan birokrasi dari korupsi,

• menata ulang ekonomi,

• mengembalikan kepercayaan publik,

• dan membawa Indonesia ke pemilu paling demokratis dalam sejarah.

Banyak sejarawan menyebut kabinet ini sebagai “periode paling bersih” sebelum Orde Baru.

Partai dengan Intelektual Terbanyak

Masyumi adalah salah satu partai terbesar di Indonesia yang tercatat memiliki intelektual terbanyak yang lahir dari rahim umat Islam. Di Masyumi berkumpul intelektual beragam keilmuan dan profesi diantaranya :

• Najamuddin Daeng Malewa (dokter dan diplomat),

• Mohammad Roem (perunding handal),

• Sjafruddin Prawiranegara (ahli ekonomi yang menyelamatkan republik saat agresi Belanda). Kemudian ada Mohammad Natsir, intelektual sekaligus sosok ulama yang juga negarawan yang terkenal dengan mosi Integral yang menyatukan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan sempat menjadi Perdana Menteri.

Masyumi adalah partai para intelektual Muslim. Mereka menjadi pelopor gagasan yang kemudian mengakar dalam masyarakat Muslim Indonesia:

• dakwah modern,

• pendidikan berbasis pemikiran rasional,

• gerakan filantropi Islam,

• penguatan organisasi Muhammadiyah dan jaringan dakwah NU,

• pembangunan rumah sakit dan sekolah Islam.

Bahkan tokoh besar Muhammadiyah seperti Buya Hamka pun akrab dengan jaringan intelektual Masyumi.

Panggung Dunia – Diplomasi dan Posisi Internasional Masyumi

Banyak yang lupa bahwa Masyumi adalah wajah Indonesia dalam diplomasi Islam internasional.

Para pemimpinnya bertemu tokoh-tokoh dunia Islam dari Pakistan, Mesir, hingga Saudi.

Masyumi mendorong Indonesia mengambil peran lebih besar dalam organisasi negara-negara Muslim, jauh sebelum OKI berdiri pada 1969.

Mohammad Natsir dikenal secara internasional sebagai pemikir Muslim yang moderat dan intelektual kelas dunia. Bukunya Islam and Modernity sering dikutip hingga hari ini.

Pemilu 1955 – Saat Masyumi Menjadi Bintang Terang Republik

Pemilu 1955 adalah puncak pencapaian Masyumi. Di jalan-jalan Jakarta, pelataran masjid di Minangkabau, hingga pasar-pasar di Banjarmasin, poster Masyumi muncul menghiasi tembok dan papan kayu.

Dalam arsip sejarah memperlihatkan perempuan-perempuan berselendang menandai kertas suara, laki-laki yang berfoto di TPS dengan peci hitam, dan anak-anak yang mengintip dari balik pagar.

Hasilnya luar biasa:

7.903.886 suara

57 kursi DPR

20,9 persen suara nasional

Lebih dari sepertiga penduduk luar Jawa memilih Masyumi sebagai representasi mereka.

Ini adalah bukti bahwa Masyumi bukan hanya partai, tetapi gerakan nasional.

Etika Politik – Ketika Kejujuran Adalah Jati Diri

Di masa itu, politik penuh intrik dan tawar-menawar. Namun Masyumi berdiri dengan karakter berbeda. Para tokohnya terkenal sangat menjaga integritas.

Mohammad Natsir sendiri dikenal hidup sangat sederhana. Ia menolak fasilitas negara yang tidak dianggap perlu. Gaya kepemimpinannya menjadi gambaran moralitas politik umat Islam.

Dalam sejarah politik Indonesia, hanya sedikit partai yang memiliki reputasi sebersih Masyumi.

Masyumi sebagai Benteng Ideologis Umat Islam

Pada 1950–1960, kekuatan PKI meningkat tajam. Pertarungan ideologi antara Islam dan komunisme tak terelakkan.

Masyumi menjadi penyeimbang, memastikan ruang politik tetap plural dan tidak didominasi satu ideologi ekstrem.

Debat-debat di parlemen antara tokoh Masyumi dan tokoh kiri menjadi catatan intelektual yang masih dikutip hari ini.

Warisan yang Tidak Pernah Mati

Meskipun partai ini kemudian dibubarkan pada 1960, warisannya jauh lebih panjang daripada usianya.

Warisan itu hidup dalam:

• Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia,

• Partai Bulan Bintang pasca-Reformasi,

• tokoh intelektual Muslim era 1970–2000,

• gagasan demokrasi Islam,

• jaringan pendidikan Islam modern di Indonesia.

Masyumi pernah bersinar begitu terang, mungkin terlalu terang bagi zamannya.

Tetapi cahaya itu tidak pernah padam.

Ia hidup dalam sekolah, masjid, organisasi, dan pikiran jutaan Muslim yang percaya bahwa iman dan intelektualitas dapat berjalan seiring untuk membangun negeri.

Sebuah Bab yang Tak Pernah Benar-Benar Selesai

Masyumi adalah bab yang ditutup oleh politik, tetapi dibuka kembali oleh sejarah.

Ia adalah gerakan yang lahir dari semangat Islam, tumbuh bersama republik, berjaya dalam demokrasi, dan meninggalkan jejak intelektual yang tidak lekang oleh waktu.

Sejarah mencatat usia Masyumi tidak panjang. Namun maknanya panjang sekali (Marwan Aziz).


Sumber Pustaka

1. Wikipedia (Bahasa Indonesia & Inggris)


2. Kompas.com

  • “Dua Hal yang Melatari Pembubaran Masyumi oleh Sukarno”
  • Artikel sejarah terkait Masyumi, Pemilu 1955, dan PRRI

3. Historia.id

Sumber artikel sejarah mendalam tentang:

  • Masyumi
  • Mohammad Natsir
  • Burhanuddin Harahap
  • PRRI
    Termasuk analisis peristiwa di era Demokrasi Liberal dan Demokrasi Terpimpin.

4. M.C. Ricklefs

A History of Modern Indonesia
Rujukan akademik utama tentang:

  • Perkembangan politik Indonesia 1945–1960
  • Kabinet-kabinet awal
  • Relasi Masyumi dan PRRI

5. Herbert Feith

The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia
Karya ilmiah penting yang mengulas:

  • Masa demokrasi parlementer
  • Peran Masyumi dalam politik nasional
  • Ketegangan ideologi 1950–1959

6. Audrey & George McTurnan Kahin

Subversi sebagai Politik Luar Negeri: Konflik PRRI/Permesta
Referensi berharga untuk memahami:

  • Posisi tokoh-tokoh Masyumi dalam PRRI
  • Konflik pusat–daerah tahun 1958

7. Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI)

Dokumen resmi negara terkait:

  • Arsip Kabinet Natsir
  • Arsip Kabinet Burhanuddin Harahap
  • Arsip PRRI dan politik nasional 1950-an

8. Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII)

Sumber mengenai:

  • Latar belakang pendirian DDII oleh Mohammad Natsir
  • Warisan intelektual Masyumi pasca-1960

9. Pustaka Muhammadiyah & Nahdlatul Ulama

Dokumentasi sejarah tentang:

  • Peran tokoh ormas dalam Masyumi
  • Kontribusi jaringan Islam modernis dan tradisional

10. KITLV & Arsip Foto Kolonial

Sumber visual dan dokumentasi foto era:

  • 1945–1960
  • Suasana politik, sosial, dan kehidupan publik pada masa Masyumi

11. Tempo – Rubrik Sejarah

  • Riwayat politik Masyumi
  • Latar belakang PRRI
  • Biografi pendek tokoh-tokoh era 1950-an

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *