Jejak Kolaborasi Kiai Ahmad Dahlan: Dari Kauman ke Muntilan, Inspirasi Lintas Iman untuk Keadilan Sosial

Cendekia Terkini

JAKARTA, KABAR MUSLIM– tengah suasana hangat Forum Group Discussion (FGD) Bidang Ekonomi dan Kewirausahaan yang digelar oleh DPP Ahlul Bait Indonesia (ABI) di Islamic Cultural Center (ICC), Sabtu (25/10), Mukhaer Pakkanna, seorang aktivis Muhammadiyah — berbicara bukan hanya tentang angka ekonomi atau konsep kemandirian umat.

Ia berbicara tentang sejarah, tentang ruh kolaborasi lintas batas yang pernah mengalir dalam darah para pendiri bangsa dan tokoh Islam.

“Tatkala saya mengurai urgensi kolaborasi lintas organisasi keagamaan dalam membangun ekonomi komunitas,” ujarnya, “saya langsung teringat sosok Kiai Ahmad Dahlan.”tutur dosen Institute Teknologi Bisnis Ahmad Dahlan Jakarta ini.

Nama itu, bagi banyak orang, lekat dengan amal sosial, pendidikan, dan rumah sakit. Namun bagi Mukhaer, di balik ketokohan Kiai Dahlan ada kisah yang lebih luas: kisah lintas iman, lintas ideologi, dan lintas batas keagamaan yang justru melahirkan wajah Islam yang inklusif dan progresif.

Teologi Al-Ma’un dan Aktivis Komunis di Kauman

Awal abad ke-20. Di tengah pergerakan nasional yang baru menggeliat, Kauman Yogyakarta menjadi laboratorium pemikiran sosial keagamaan.

Di tempat inilah Kiai Ahmad Dahlan mendalami Surah al-Ma’un,sebuah surah pendek yang mengajarkan empati sosial dan keberpihakan terhadap kaum tertindas.

Namun, cara Kiai Dahlan memaknai surah itu melampaui tafsir biasa. Ia tidak berhenti pada ibadah ritual, melainkan menukiknya ke ranah praksis sosial.

Untuk menajamkan pemahamannya, Kiai Dahlan melakukan langkah yang pada masa itu tergolong radikal: mengundang para aktivis kiri dari Indische Sociaal Democratische Vereniging (ISDV), organisasi yang kelak melahirkan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Di antara tamunya adalah A. Baars, Darsono, dan Semaun, tokoh-tokoh komunis awal Hindia Belanda. Mereka berdiskusi di Kauman, membicarakan tentang keadilan sosial, kemiskinan, dan pembebasan manusia dari penindasan.

Dari pertemuan-pertemuan itu, Kiai Dahlan semakin menegaskan bahwa kemiskinan bukan sekadar soal ketiadaan harta, tapi soal ketidakberdayaan sosial.

Maka dari situlah lahir gagasan besar pemberdayaan melalui pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan yang kemudian diwujudkan dalam bentuk Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).

“Kiai Dahlan tidak melihat ideologi sebagai ancaman,” tutur Mukhaer yang berasal dari Bantaeng, Sulawesi Selatan ini.

Ia melihat ide sebagai jembatan pengetahuan, sepanjang tujuannya memanusiakan manusia.

Dari Muntilan untuk Nusantara: Inspirasi dari Romo Van Lith

Jika di Kauman Kiai Dahlan berdialog dengan aktivis kiri, maka di Muntilan, Magelang, ia bersua dengan tokoh Katolik.

Di Kolese Xaverius, ia bertemu Romo Frans Van Lith, misionaris Belanda yang dikenal sebagai peletak dasar pendidikan Katolik modern di Jawa.

Alih-alih curiga atau menolak, Kiai Dahlan justru belajar. Ia berdiskusi tentang sistem pendidikan Eropa, kurikulum modern, dan pentingnya pendidikan bagi rakyat pribumi.

Dari sana, lahirlah ide untuk mengubah sekolah Muhammadiyah menjadi “Kweekschool Islam”  sekolah Islam setara dengan sekolah-sekolah Belanda.

Langkah itu bukan hanya strategi pendidikan, tapi juga pernyataan identitas: bahwa Islam mampu berdiri sejajar dengan dunia modern tanpa kehilangan nilai spiritualnya.

Kini, lebih dari seabad kemudian, jejak Kiai Dahlan hidup dalam puluhan ribu sekolah dan ratusan rumah sakit Muhammadiyah di seluruh Indonesia, bukti nyata bahwa kolaborasi lintas iman dan ilmu pengetahuan dapat melahirkan peradaban.

Refleksi untuk Zaman Kini: Lintas Mazhab, Lintas Gerakan

Dalam forum yang dihadiri tokoh-tokoh nasional seperti Dr. Haidar Bagir dan Sayyid Naufal Ali Bilfaqih, Mukhaer Pakkanna mengajak jamaah Ahlul Bait Indonesia (ABI) untuk melanjutkan semangat yang sama: bekerja lintas mazhab, lintas ormas, dan lintas ideologi untuk kemajuan umat.

Pengalaman sejarah Muhammadiyah, katanya, bukan hanya cerita nostalgia, tetapi peta jalan bagi kolaborasi Islam hari ini. Di tengah tantangan ekonomi dan perpecahan sosial, umat memerlukan jembatan baru, bukan tembok pembatas.

“Semoga semua ini menjadi amal ibadah untuk mengakselerasi kemajuan bangsa kita tercinta,” ucap Mukhaer Pakkanna.

Cahaya dari Masa Lalu

Kisah Kiai Ahmad Dahlan adalah cermin betapa luasnya cakrawala Islam Nusantara.

Ia belajar dari siapa pun yang membawa cahaya — dari aktivis kiri di Kauman hingga misionaris Katolik di Muntilan.

Bagi generasi kini, pelajaran itu tetap relevan: bahwa iman tidak harus eksklusif, dan kemajuan umat lahir dari keberanian untuk berdialog.

Di ruang-ruang diskusi seperti FGD ABI itu, semangat Dahlan seakan hidup kembali — mengingatkan bahwa membangun bangsa tidak cukup dengan satu warna, tetapi dengan mosaik kolaborasi lintas iman, lintas ide, dan lintas cinta (Marwan Aziz)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *