Warga Sudan yang terjebak peperangan antara milisi pemberontak RFS dan Pasukan Pemerintah Sudan. Foto : Ft.com.
DARFUR, KABAR MUSLIM– Langit Khartoum memerah di pagi hari. Suara dentuman roket dan senapan mesin menggema di antara gedung-gedung beton yang kini dipenuhi lubang peluru.
Jalanan yang dulu sibuk kini kosong, hanya sesekali terlihat sepeda motor RSF melintas membawa senapan berat, wajah para prajurit muda tertutup syal gurun.
“Kami tidak tahu siapa yang memerintah negeri ini lagi,” kata seorang warga Khartoum yang dikutip Kabar Muslim dari Al Jazeera dalam wawancara via telepon yang disamarkan lokasinya (Al Jazeera, 29 Oktober 2025).
“Setiap malam, suara ledakan terdengar makin dekat. Kami hanya berdoa agar pagi masih ada.”ujarnya.
Hari itu, dunia kembali dikejutkan oleh kabar kudeta berdarah di Sudan. Milisi Rapid Support Forces (RSF) yang dulu dibentuk pemerintah untuk menumpas pemberontakan, kini justru mengkudeta majikan mereka sendiri.
Dari Pasukan Bayaran Jadi Penguasa Bayangan

RFS. Foto : Bratinnica.com
Untuk memahami tragedi Sudan hari ini, kita harus mundur dua dekade ke belakang — ke jantung Afrika, di wilayah Darfur, tempat sejarah genosida modern pertama abad ke-21 tercatat.
Pada awal 2000-an, dua kelompok bersenjata, Sudan Liberation Movement (SLM) dan Justice and Equality Movement (JEM), bangkit menentang diskriminasi rezim Khartoum yang didominasi elit Arab.
Pemerintah menanggapinya dengan cara brutal, dengan membentuk milisi bayaran Janjaweed, yang kemudian berevolusi menjadi Rapid Support Forces (RSF).
Milisi Janjaweed membakar desa-desa, membunuh laki-laki, memperkosa perempuan, dan memaksa jutaan orang non-Arab mengungsi.
PBB mencatat lebih dari 300.000 orang tewas dalam konflik Darfur (UN Report, 2019). Dunia menyebutnya genosida, dan Presiden Omar al-Bashir menjadi kepala negara pertama yang dituntut Mahkamah Pidana Internasional (ICC) karena kejahatan perang dan pembantaian etnis.
RSF — Tentara Bayaran Lintas Benua
Seiring waktu, RSF bukan hanya menjadi milisi lokal, melainkan korporasi perang.
Pada 2016, mereka mengirim 40.000 prajurit ke Yaman, berperang atas bayaran Arab Saudi melawan milisi Houthi (Reuters, 2020).
Di Libya, mereka bertempur bersama Khalifa Haftar, komandan Libyan National Army (LNA) yang melawan pemerintahan Tripoli.
Sumber pendanaan utama RSF berasal dari tambang emas Jebel Amer di Darfur Utara — salah satu yang terkaya di Afrika.
Menurut laporan The Washington Post (29 Oktober 2025), emas itu diekspor melalui jaringan Uni Emirat Arab, memberikan RSF kekuatan ekonomi mandiri yang jauh melampaui militer resmi Sudan.
Dengan kekayaan dan pengalaman tempur lintas benua, RSF menjadi “negara dalam negara”. Mereka memiliki struktur militer, sumber dana, bahkan hubungan diplomatik tidak resmi dengan negara lain.
Kudeta 2025: Ketika Bayangan Menggigit Majikan
Pada Oktober 2025, setelah bertahun-tahun konflik internal, RSF melancarkan serangan besar-besaran ke jantung kekuasaan Sudan.
Dalam waktu kurang dari 24 jam, RSF menguasai Bandara Internasional Khartoum, markas intelijen, serta beberapa fasilitas komunikasi utama.
Militer Sudan (SAF) menanggapi dengan kekuatan udara, tetapi pengkhianatan internal di tubuh intelijen nasional (BIS) mempercepat kekalahan mereka.
Laporan The Guardian (28 Oktober 2025) menyebut, “RSF berhasil memutus jalur logistik militer dan memblokir bantuan kemanusiaan ke wilayah barat Sudan. Ribuan tentara pemerintah menyerah atau tewas dalam penyergapan.”
Peta Perang yang Membelah Negeri

Peta: Sudan Post, Oktober 2025
Merah menunjukkan wilayah yang dikuasai RSF — hampir seluruh Darfur, sebagian Kordofan, dan jalur utama menuju Khartoum.
Hijau menunjukkan wilayah yang masih dikendalikan militer Sudan (SAF) di bagian utara dan timur.
Biru adalah zona sengketa yang kini menjadi “tanah mati” bagi warga sipil.
Konflik terbaru ini telah menewaskan lebih dari 12.000 warga sipil, menurut laporan DW News (Oktober 2025). Lebih dari 14 juta orang kini hidup dalam kondisi darurat kemanusiaan.
Ketika Dunia Diam
Meski tragedi Sudan tergolong salah satu krisis kemanusiaan terburuk abad ini, dunia tampak nyaris bungkam.
Negara-negara besar lebih sibuk pada konflik Ukraina dan Timur Tengah. Sementara itu, senjata-senjata buatan Inggris dan Turki ditemukan di tangan RSF — memunculkan pertanyaan besar soal rantai pasok senjata global (The Guardian, 28 Okt 2025).
“Sudan adalah cermin dari dunia yang lelah memperhatikan Afrika,” tulis kolumnis Carnegie Endowment (Oktober 2025).
“Kita sudah terbiasa menatap penderitaan dari layar tanpa benar-benar mendengarnya.”ujarnya.
Luka Lama yang Tak Pernah Sembuh
Bagi masyarakat Darfur, apa yang terjadi hari ini hanyalah pengulangan luka lama.
“Janjaweed dulu membakar rumah kami, sekarang anak-anak mereka datang lagi dengan bendera RSF,” kata seorang pengungsi perempuan di kamp El Fasher kepada BBC Africa (27 Okt 2025).
Di kamp pengungsian itu, anak-anak bermain di antara tenda-tenda robek. Mereka belum lahir saat genosida pertama terjadi, tapi kini mereka hidup di bawah bayangan yang sama — bayangan Janjaweed, yang tak pernah benar-benar hilang dari tanah Sudan.
Api yang Tak Pernah Padam
Sudan hari ini adalah potret kelam tentang bagaimana sebuah negara bisa hancur oleh pasukan yang diciptakannya sendiri.
RSF lahir dari strategi jangka pendek untuk menumpas pemberontakan, tapi justru berubah menjadi monster yang menelan penciptanya.
Seperti kata pepatah Afrika kuno:“Jika kau menyalakan api untuk musuhmu, jangan berdiri terlalu dekat — sebab apinya bisa kembali membakar rumahmu sendiri.”
Dan itulah yang kini terjadi di Sudan — api yang tak pernah padam, menyala lagi di atas darah dan debu Darfur.
Sumber Referensi Utama:
– The Guardian (28–29 Oktober 2025): Mass killings reported in El Fasher, Sudan paramilitary group RSF accused of genocide.
– The Washington Post (29 Oktober 2025): Sudan’s war deepens as RSF seizes key cities in Darfur.
– Al Jazeera (29 Oktober 2025): Sudan coup: RSF claims control of Khartoum Airport.
– DW News (Oktober 2025): Sudan after RSF takeover: atrocities feared in Darfur.
– Carnegie Endowment for International Peace (Oktober 2025): A war fueled by hate speech: Sudan’s fall into fragmentation.

